Imajinasi

MIMPI, IMAJINASI DAN REALITY

Oleh Agus Saeful Mujab

Hidup ini kadang diluar logika. Semangat, keyakinan  optimisme bisa mengalahkan logika. Optimis, keyakianan bisa muncul jika sebuah angan-angan, cita-cita, khayalan, imajinasi, tentang harapan kehidupan (dalam arti luas) yang lebih baik.  Bahkan sorang peraih nobel Albert Einstein, Ilmuwan Amerika Serikat kelahiran Jerman (1879–1955) mengatakan Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan.

Bahasa Ahmad Dani pentolan Dewa 19 dalam syair lagunya mengatakan imajinasi lebih berarti dari pada ilmu pasti. Maka tak heran jika ada seorang ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja, tanpa pengalaman dan pendidikan yang memadai bisa membuat takjub masyarakat Filipina. Dengan gagah berani ia mampu membangun fondasi demokrasi yang menyakinkan di negara bermata uang peso itu. Ia adalah perempuan biasa yang bernama Cory Aquino.

Amerika Serikat mempunyai seorang legendaris Abraham Lincoln. Padahal ia adalah seorang yang pernah terkena depresi mental, berulang-ulang kali gagal menjadi sorang wakil rakyat, pengusaha dan wakil presiden, ia nekat menjadi mencalonkan diri menjadi Presiden  AS ke-16 (1861-1865).  Dunia mengaggumi akan prestasinya, patungnya kini terletak di Boulevard di Washington DC, seakan terus mengamati, melihat perkembangan kota Washington DC  Dalam memorialnya Abraham Lincoln dijuluki Abe Jujur dan Pembebas Agung karena semangatnya untuk menghapuskan perbudakan.

Di Jepang Seichiro Honda mengalami putus tangan hanya untuk mencapai cita-cita sebagai pendesain piston. Pada suatu kesempatan,  akhirnya ia berani menulis “SUKSES 98% DIBENTUK OLEH KEGAGALAN”. Seorang kakek berumur 65 tahun, dengan muka tebalnya memasuki ribuan restoran untuk menawarkan cara menggoreng ayam, akhirnya direstoran yang ke 1.009  idenya bisa diterima.  Kakek tua yang hanya bermodal  pensiun  105 Dolar itu bernama Kolonel Sanders. Seorang motivator asal Amerika Serikat, Robert Kiyosaki mengatakan, ”Seberapa besar kesuksesan Anda bisa diukur dari seberapa kuat keinginan Anda, setinggi apa mimpi-mimpi Anda, dan bagaimana Anda memperlakukan kekecewaan dalam hidup Anda.” Sementara Dr A P J Abdul Kalam, Presiden India ke-11 (2002–2007) berpendapat “Kamu harus bermimpi sebelum mimpimu menjadi kenyataan.” Sedangkan Gabriel Garcia Marquez, novelis terkemuka Kolombia, peraih Nobel Sastra 1982 mengatakan “Tidak benar jika dikatakan orang berhenti mengejar mimpi karena mereka sudah tua. Yang benar orang-orang itu menjadi tua justru karena mereka berhenti mengejar mimpi-mimpi itu.” Dan ternyata mimpi, dibarengi dengan imajinasi, dijabarkan dengan pengalaman (pahit manisnya) dibumbui dengan keyakinan, mampu menghasilkan karya  luar biasa diluar logika. Dari berbagai sumber.



Leadership : Produktif, Inspiratif, Kolektif

Oleh Agus Saeful Mujab

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, leadership  menjadi kajian yang sangat menarik. Perubahan kehidupan social negara berkembang  yang begitu komplek, diperlukan pememimpin inspiratif yang mampu menjadi motivator bagi banyak  orang -yang pada umumnya  masyarakat pada saat ini sedang mengalami kebingungan social-  akibat dampak perubahan sosial dan masyarakat dunia yang semakin  mengglobal. Arus globalisasi begitu deras seperti air bah yang datang secara tiba-tiba, dan bisa menyebar secara sporadis dimana-dimana. Organisasi, baik itu negara, ormas, parpol, perusahaan atau apapun bentuknya harus mengubah gaya kepemimpinannya.
Banyak partai dirundung konflik berkepanjangan, banyak perusahan bangkrut karena perselisihan dan banyak negara pecah karena perbedaan. Dan biasanya ketika terjadi perbedaan pandangan  menempuh jalan pintas gaya tradisional konservatif yaitu pecat. “Anda saya pecat, karena kita tidak satu visi lagi, dan untuk apa kita kerja sama” begitu katanya. Penulis menjadi ingat  seorang Napoleon Bonaparte. Ia mengatakan bahwa seseorang yang mampu mengubah dunia tak pernah melakukan dengan mengganti pejabat, tapi selalu dengan mengilhami orang lain. Ini berarti bahwa seorang pemimpin besar tidak begitu mudah untuk memecat seseorang karena hanya karena perbedaan padangan. Pemimpin besar sadar betul bahwa perbedaan pandangan itu hikmah, alamiah dan sudah merupakan hukum alam yang harus kita terima.

Dalam bahasa yang lain, Lao-Tse atau juga sering disebut Tao Te Ching, penulis dari Cina yang konon hidup 6 abad SM, mengatakan pasukan terbaik tidak menyerang.  Petarung handal tidak meraih kemenangan dengan kekerasan. Panakluk agung  menang tanpa perjuangan. Manajer akan memimpin tanpa mendikte. Ini adalah disebut dengan kecerdasan pengusaan diri. Sekali lagi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan inspirasi kebanyak orang, sehingga orang tersebut mau bekerja karena terinspirasi oleh pemimpinnya, tanpa ada paksaan, apalagi kekerasan. Dan inspirasi itu adalah energi positif bagi banyak orang dibawahnya, sehingga karyawan, staf, rakyat (kalau itu negara) akan bekerja, bertidak dan berperilaku positif juga. Sebalik  jika pemimpin di penuhi energi negatif (mental korup, penuh parasangka, tidak jujur dan lain-lain) karyawan, staf, rakyat akan bekerja, bertidak dan berperilaku negatif juga.

Adalah Jim Rohn,  seorang filusuf Bisnis terkenal di dunia yang menghasilkan anak didik sekaliber  Robert Kiyosaki mengatakan bahwa tantangan seorang pemimpin adalah menjadi orang kuat tetapi tidak kasar, menjadi orang baik tetapi tidak lemah, yang banyak berfikir tetapi tidak malas, yang rendah hati tetapi tidak rendah diri, yang bangga tetapi tidak arogan, yang humoris tetapi tidak bodoh. Suatu tujuan luhur kepemimpinan adalah membantu mereka yang melakukan sesuatu dengan kuliatas rendah agar menjadi lebih baik, dan membantu mereka yang sudah baik untuk menjadi lebih baik lagi. Dari semua catatan diatas diatas, pemimpin yang tangguh adalah yang berpikir produktif, sehingga menghasilkan inspirasi bagi banyak orang, dan orang-orang yang terinspirasi tersebut bekerja secara kolektif mendukung pemimpinnya.  Dari berbagai sumber