Kehidupan Beragama

Momentum Perbarui Negara

Kompas, Kamis, 9 September 2010 | 04:43 WIB
Eko Prasojo
Bagi umat Islam, Idul Fitri merupakan momentum untuk memperbarui hidup. Bukan saja bagi hamba-hamba Allah secara individual, melainkan secara kolektif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Jika setiap Muslim menyadari betapa pentingnya stasiun Ramadhan yang telah berlalu bagi pengembangan keimanan, ibadah, dan akhlak, niscaya sebagian dari persoalan berbangsa dan bernegara dapat terselesaikan.
Memperbarui hidup merupakan kewajiban setiap Muslim. Kewajiban ini terletak pada dua aras. Pertama, secara alami manusia adalah makhluk yang membutuhkan pembaruan-pembaruan dalam hidupnya. Keinginan untuk membuka lembaran baru pada setiap fajar tiba adalah sesuatu yang lahir karena fitrah manusia.
Kedua, kewajiban untuk memperbarui hidup merupakan perintah Allah SWT dan sunah Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan harapan yang diberikan Allah kepada manusia untuk tidak berputus asa atas pengampunan Allah terhadap dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ampunan Allah kepada hamba-Nya sangatlah luas.
Pada sisi lainnya, kewajiban untuk memperbarui hidup ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Seorang Muslim bahkan tidak boleh pesimis apalagi putus asa atas rahmat Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Ampunan dan rahmat Allah sangat luas, dan menanti manusia untuk memohon kepada-Nya.
Memperbarui negara
Negara adalah cerminan pemimpin dan masyarakatnya. Keberhasilan suatu negara, tidak saja ditentukan oleh kemampuan akal untuk melakukan perubahan sistem ekonomi, politik, hukum, sosial, administrasi, dan pemerintahan, tetapi juga sangat ditentukan oleh jiwa dan akhlak para pemimpin dan rakyatnya. Karena itulah, kebangkitan Indonesia dari segala persoalan yang saat ini dihadapi tidak boleh hanya didasarkan pada kekuatan akal pikiran manusia, tetapi harus diiringi oleh rahmat Allah SWT.
Tidak heran jika Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga juga mencantumkan pernyataan para pendiri negara tentang dukungan Allah atas kemerdekaan Indonesia: ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Adalah suatu kemustahilan bahwa perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan hanya semata-mata didukung oleh kekuatan fisik tanpa pertolongan dan rahmat Allah.
Idul Fitri adalah momentum untuk mengembalikan kepercayaan rakyat Indonesia akan makna penting kemerdekaan yang telah berumur 65 tahun. Kemerdekaan Indonesia harus memberikan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya, dan bukan hanya kekayaan kepada segelintir orang. Sulitnya Indonesia untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dan negara serta bangkit menjadi negara besar bisa jadi karena telah hilangnya rahmat Allah, bukan saja kepada para pemimpinnya, melainkan juga rakyatnya.
Rahmat Allah yang hilang karena kehidupan para pemimpin dan rakyat Indonesia tidak lagi memiliki keimanan kepada Allah. Islam hanya dipahami secara ritual budaya, tetapi nilai-nilainya tidak terefleksi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kembalinya tiap-tiap diri Muslim menjadi fitrah pada tanggal 1 Syawal tahun ini hendaklah menjadi fondasi bagi pembaruan negara Indonesia. Negara pada dasarnya kumpulan dari jiwa-jiwa manusia. Jika tiap-tiap jiwa Muslim tunduk pada nilai-nilai Islam, hal ini akan menjadi modal dasar bagi kebangkitan Indonesia. Dilakukannya berbagai ibadah wajib ataupun sunah pada bulan Ramadhan yang akan segera berlalu harus dapat mengembalikan jiwa Muslim pada fitrahnya. Fitrah untuk menjadikan hidupnya sebagai bekal kehidupan akhirat kelak, fitrah untuk memberikan kebaikan kepada sesama manusia, fitrah untuk senantiasa memperbarui hidupnya, serta bagi kehidupan individu, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Idul Fitri harus memberi makna bukan saja secara individual bagi umat Islam, melainkan juga secara kolektif bagi kebangkitan negara Indonesia. Hal ini sesuai dengan kaidah dasar Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil alamin). Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, keberadaan Islam hanya bisa dirasakan jika terdapatnya rahmat sumber-sumber kekayaan negara bagi seluruh rakyat Indonesia. Seorang pemimpin yang berkarakter Islam, tidak akan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, tidak akan membiarkan korupsi merajalela, dan seorang pemimpin berkarakter Islam tidak akan membiarkan rakyatnya hidup berkesusahan. Seorang pemimpin Muslim akan menjunjung tinggi keadilan, memajukan kesejahteraan, dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Akhirnya, momentum Idul Fitri tahun ini harus dapat memberikan kesadaran kepada umat Islam untuk segera menghindarkan diri dari dicabutnya rahmat Allah kepada negeri tercinta ini.
Kebinasaan kaum-kaum terdahulu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat yang telah Allah syariatkan. Dalam bahasa ilmiah populer, mari kita jadikan momentum Idul Fitri untuk mencegahnya terjadinya kebinasaan Indonesia sebagai negara yang gagal (failed state). Semoga.
Eko Prasojo Guru Besar dan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP UI



Idul Fitri sebagai Elan Toleransi

Kompas, Kamis, 9 September 2010 | 04:45 WIB
Zuhairi Misrawi
Min al-’Aidin wa al-Faizin. Ungkapan ini menggema di setiap momen Idul Fitri sebagai doa dan harapan untuk kembali pada kesucian serta dalam rangka meraih kemenangan, setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Sebab itu, momen tersebut senantiasa dirayakan dengan sukacita, gembira, dan penuh kebahagiaan.
Kebahagiaan yang tersimpan di dalam perayaan hari besar tersebut sejatinya dapat menjadi modal sosial sekaligus modal spiritual untuk mewujudkan kehidupan yang lebih toleran, damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut mutlak dilakukan agar setiap momentum keagamaan tidak hanya menjadi sekadar perayaan belaka, tetapi juga mempunyai makna transformatif dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap perhelatan Idul Fitri pasti mempunyai keistimewaan. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang mayoritas penduduknya Muslim, Idul Fitri di Tanah Air mempunyai nilai plus karena dijadikan sebagai momentum untuk mempertemukan keluarga yang lama tidak bersua akibat kesibukan mereka.
Idul Fitri telah menjadi medium untuk membangun solidaritas dan persaudaraan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Istimewanya, masyarakat melakukan mudik ke kampung halaman mereka secara sukarela. Meskipun tidak jarang dari mereka yang harus mengeluarkan biaya cukup besar dalam rangka mempererat tali silaturahmi di antara mereka.
Dalam hal ini, persaudaraan yang terdapat di dalam Idul Fitri telah menjadi modal penting dalam membangun persaudaraan dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan. Kehendak untuk membangun harmoni bagi masyarakat sebenarnya tidak pernah surut karena faktanya selalu ada momen yang dapat membangkitkan kesadaran akan pentingnya membangun tali persaudaraan.
Thahir bin Asyur dalam Maqashid al-Syariah (2005) menyatakan, momen kembali ke fitrah amatlah penting karena hal itu dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pemahaman yang lebih tinggi lagi, utamanya terhadap nilai-nilai universal yang terdapat di dalam agama, seperti toleransi, kemaslahatan, dan keadilan. Fitrah merupakan tuntunan yang diciptakan Tuhan kepada setiap manusia, yang mana mereka sebisa mungkin dapat menggunakan akal budinya untuk mencapai kemuliaan dalam hidup. Sebab itu, beruntunglah mereka yang betul-betul memahami dan memaknai fitrah karena fitrah akan menjadi starting point untuk menyemai kebajikan sembari menjauhi kemungkaran.
Tantangan
Dalam konteks kekinian, kembali ke fitrah mutlak diperlukan karena ruang publik masih dihantui oleh kekerasan dan intoleransi. Pelaku terorisme ditangkap, ditembak, bahkan dihukum mati. Namun, ideologi terorisme masih terus berkeliaran. Kekerasan yang dilakukan oleh ormas keagamaan cenderung meningkat jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri membenarkan bahwa kekerasan yang dilakukan beberapa ormas cenderung meningkat. Jika pada tahun 2007 terjadi sekitar 10 kasus, tahun 2008 sekitar 8 kasus. Pada tahun 2009, aksi kekerasan melonjak menjadi 40 kasus. Bahkan hingga pertengahan tahun 2010 sudah terdapat 49 kasus (Kompas, 6/9).
Data-data tersebut telah menciptakan keresahan dan kegelisahan di mata publik, bahkan mengganggu ketertiban umum. Jajak pendapat yang dilakukan harian Kompas membuktikan, rata-rata di atas 80 persen responden menyatakan keresahan mereka terhadap eskalasi kekerasan yang makin telanjang. Semua itu terjadi karena muncul pemahaman di sebagian kelompok bahwa perbedaan agama dan keyakinan merupakan sebuah ancaman, bukan kekuatan untuk membangun harmoni. Dalam hal ini, kebhinekaan yang merupakan pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara lambat laun diabaikan, bahkan dicederai.
Tantangan tersebut harus menjadi agenda bersama yang mesti dipecahkan sehingga tidak menjadi energi negatif yang dapat mengganggu integrasi sosial yang sudah mendarah daging di republik ini. Tujuannya agar kebencian sebuah kelompok terhadap kelompok lain tidak semakin meluas, dan kehendak untuk membangun harmoni selalu menyala, sebagaimana tercermin dalam momentum Idul Fitri.
Toleransi
Idul Fitri dapat dijadikan sebagai jalan untuk mengatasi problem intoleransi di atas. Ketika setiap umat mampu kembali ke fitrah, yang mana akal budi mereka siap untuk melakukan kebajikan, maka kehendak untuk membangun toleransi akan senantiasa bergelora. Yaitu sebuah sikap saling menghormati, saling menerima, dan saling menghargai di tengah keragaman budaya dan karakter manusia.
Salah satu tradisi yang biasa dilakukan dalam Idul Fitri adalah bermaaf-maafan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, tradisi bermaaf-maafan itu tidak hanya terjadi di antara umat Islam, tetapi juga melibatkan umat non-Muslim lainnya. Hal ini semakin membentangkan jalan bagi toleransi karena setiap orang mempunyai keterbukaan dan kelapangdadaan terhadap orang lain, bahkan komitmen untuk memaafkan kesalahan di masa lalu serta membuka lembaran hidup masa kini dan masa mendatang untuk kehidupan yang lebih baik.
Sementara perbedaan harus dipahami sebagai sunatullah yang harus disyukuri. Sebab, perbedaan merupakan titah Tuhan yang harus dijadikan sebagai keniscayaan hidup di dunia sehingga setiap kelompok dapat membangun dialog dan pengertian di antara mereka. Tindakan kekerasan atas nama agama sama sekali tidak dibenarkan.
Dalam hal ini, ada baiknya bila meneladani para ulama fikih, seperti Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Di tengah perbedaan pandangan di antara mereka tidak menjadikan mereka bertentangan satu dengan yang lain. Imam Syafii mengeluarkan sebuah pandangan yang penting sekali dalam rangka memaklumi perbedaan dan membangun toleransi, ”Pendapat saya benar, tapi mungkin saja salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi mungkin saja benar.”
Toleransi merupakan laku para ulama terdahulu. Sebab itu, dalam suasana Idul Fitri ada baiknya toleransi dijadikan sebagai pesan utama yang dapat memperkokoh tali kebangsaan dan tali kemanusiaan. Harapannya, toleransi akan menjadikan bangsa ini bangkit dari keterpurukan karena tidak ada lagi kebencian dan kekerasan yang dilakukan oleh warganya.
Zuhairi Misrawi Ketua Baitul Muslimin Indonesia Bidang Hubungan Antar-agama dan Penulis buku ”Al-Quran Kitab Toleransi”


RENUNGAN

Idul Fitri dan Demokrasi Spiritual

Kompas, Kamis, 9 September 2010 | 03:16 WIB
Ahmad Syafii Maarif
Mengaitkan Idul Fitri tahun ini dengan demokrasi di Indonesia, apalagi dengan atribut spiritual (istilah Iqbal), seperti mengada- ada, bukan? Namun, jika perayaan ini diadakan masih dalam suasana demokrasi compang- camping, nyaris bebas nilai, isunya menjadi agak jelas. UUD 1945 telah diamendemen sebanyak empat kali, sekalipun intinya adalah pembatasan masa jabatan presiden, sebagaimana yang tertera di Pasal 7 UUD asli yang berbunyi, ”Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali”. Ketentuan ”sesudahnya dapat dipilih kembali” inilah yang dinilai membuka pintu untuk sistem otoritarian karena tanpa pembatasan. Perubahan lain-lain hanyalah tambahan belaka.

Kita tengok dulu Idul Fitri pada 1 Syawal 1431/10 September 2010 besok pagi. Tidak ada catatan pasti sudah berapa kali perayaan Idul Fitri diadakan sejak Islam pertama kali menapakkan kaki di Nusantara ratusan tahun yang silam. Jika benar pendapat yang mengatakan bahwa Islam telah datang ke kepulauan ini sejak abad ke-7/8 Masehi, perayaan itu kira-kira telah berlangsung selama berabad-abad.
Di abad-abad permulaan itu, tentu shalat hari raya diselenggarakan di masjid-masjid/mushala-mushala sederhana dengan khotbah dalam bahasa Arab. Boleh jadi, sebagian pengkhotbah dan hampir seluruh jemaahnya tidak paham isi ucapan sang khatib. Sisa fenomena ini masih sedikit ditemukan di berbagai kawasan Nusantara. Bagi mereka, menjadi tidak sah khotbah itu jika bukan dalam bahasa Arab, sebab itu adalah bahasa Nabi. Belum terjangkau di pikiran mereka saat itu bahwa Nabi berkhotbah dalam bahasa Arab karena memang itulah lingua franca masyarakat setempat, sesuatu yang sangat logis. Akan menjadi tidak logis jika pesan agama itu disampaikan dalam bahasa yang tidak dipahami jemaah.
Tradisi shalat di tanah lapang dan penyampaian khotbah dalam bahasa lokal adalah gejala abad ke-20, dipelopori terutama oleh Muhammadiyah. Islam dengan demikian menjadi agama yang lebih komunikatif. Bukankah khotbah itu bertujuan agar pesan agama dimengerti oleh pendengarnya dan dengan cara itu akan memengaruhi perilaku mereka ke arah yang lebih baik dan positif? Adalah sebuah kesia-siaan manakala pesan itu hanya menguap ke udara lepas tanpa berdampak apa pun bagi pendengarnya. Terjemahan Al Quran ke dalam bahasa Indonesia adalah juga gejala abad ke-20. Sebelumnya, kitab suci ini hanya dibaca untuk mendapat pahala, tidak perlu dipahami maknanya. Maka, tidaklah mengherankan jika kebanyakan umat Islam Indonesia beragama secara tradisi, secara berketurunan, sedangkan pemahaman yang agak mendalam seperti diabaikan.
Namun, untuk mengubah pola pikir umat dalam masyarakat yang masih tertutup lagi sederhana itu bukanlah pekerjaan mudah, tidak jarang menyulut konflik. Belum lagi, tidak jarang para elitenya memanfaatkan situasi itu demi kepentingan hegemoninya agar tetap langgeng. Demikianlah, awal setiap upaya pembaruan dan gerakan perubahan keagamaan umumnya dicaci maki, dihujat, bahkan dikafirkan, tetapi diam-diam diikuti, asal dasar-dasarnya ditegakkan atas landasan yang kokoh secara iman dan dengan dalil yang kuat.
Apakah hakikat Idul Fitri itu? Ungkapan itu dapat berarti ”kembali berbuka” atau bisa juga ”kembali kepada kesucian, kepada otentisitas kemanusiaan”. Makna yang pertama dengan mudah dapat disaksikan, puasa Ramadhan telah usai, makan minum pada siang hari sudah tidak lagi haram. Adapun makna kedua merupakan perjuangan tanpa henti, sebuah pendakian, sebuah riyadhah (latihan kejiwaan) yang memerlukan komitmen total. Itulah sebabnya Al Quran dalam surat Al-Baqarah Ayat 183 tidak serta- merta menjamin bahwa orang yang berpuasa pasti akan mencapai tujuannya. Ungkapan la’allakum tattaqun (semoga kamu berhasil meraih posisi takwa).
Orang yang bertakwa pasti dicintai dan diperlukan masyarakat luas, Muslim dan non- Muslim. Kehadirannya dirindukan karena membawa pesan kedamaian, persaudaraan, dan berita gembira buat semua. Itu dilakukan tanpa pura-pura, tetapi otentik. Ayat 185 dari surat yang sama memberitahukan bahwa Al Quran turun buat pertama kali bulan Ramadhan, sebuah pesan Langit berisi petunjuk terakhir bagi penghuni bumi seluruhnya, khususnya manusia, beriman atau belum beriman. Dengan demikian, puasa Ramadhan sekaligus merupakan momentum teramat penting untuk memperingati wahyu terakhir itu.
Ujung Ayat 185 menyatakan, ”Dan (Allah) menghendaki kemudahan bagimu, tidak menghendaki kesusahan; dan genapkanlah bilangan (puasamu), agungkan Allah atas segala hidayah yang telah diberikan kepadamu, dan semoga (dengan demikian) kamu akan pandai bersyukur”. Bagi yang beriman, puasa bukanlah beban kecuali bagi pekerja berat dan musafir yang kehausan.
Mengagungkan Allah dan perasaan syukur di hari Idul Fitri merupakan ujung dari seluruh dimensi spiritual puasa Ramadhan. Dimensi rohani ini, jika dibawa ke gelanggang politik di Tanah Air, maka kualitas demokrasi Indonesia pasti akan berorientasi pada tegaknya keadilan dan kesejahteraan untuk semua, bukan demokrasi untuk menggemukkan yang sudah gemuk. Kata akhir, ”Berapa lama lagi bangsa ini harus menanti agar didikan puasa dan perasaan syukur Idul Fitri memengaruhi cara kita berdemokrasi?”

Bintang Rock dalam Kamar Pesantren

Kompas, Minggu, 19 September 2010 | 02:44 WIB
undefined
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Santri di Pondok Pesantren Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menunggu waktu shalat, Jumat (3/9). Pesantren ini mendidik para santrinya untuk bersikap terbuka dan menghargai perbedaan.
ARIS PRASETYO & REGINA RUKMORINI

Seolah menyempal dari citra pendidikan Islam tradisional, Pesantren Pabelan di Magelang dan Pondok Modern Gontor di Ponorogo menyuguhkan semangat modern. Kedua lembaga ini mengembangkan iklim berpikir terbuka, berorientasi global. Para santri pun boleh bergaul dengan budaya pop.
Dinding kamar itu begitu ”meriah”. Di bagian tengah, ada lukisan labu raksasa dengan taring dan mata melotot—mirip ikon perayaan Halloween. Bidang lain dipenuhi poster artis Amerika, seperti Travis Barker, drummer pop-punk Blink 182, dan band metal Avenged Sevenfold.
Dinding tersebut tak ubahnya mural tembok garapan anak muda di kota metropolitan. Padahal, pemandangan itu terdapat di salah satu kamar Pondok Pesantren Pabelan di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Pelukisnya adalah para santri.
”Kami mencorat-coret dinding kamar agar lebih nyaman untuk ditinggali. Ustaz memberikan izin,” kata Mustofa (17), santri asal Lampung.
Tak beda dengan remaja kota, para santri itu leluasa menggemari artis-artis pop Barat. Hanya saja, selain gandrung pada musik, sebenarnya mereka juga punya alasan lain. ”Dengan menikmati musiknya, kami sekaligus belajar mengucapkan kata-kata bahasa Inggris,” lanjut pemuda yang menggemari band Avenged Sevenfold ini.
Pada akhir bulan Ramadhan (pertengahan September) lalu, sejumlah santri bernyanyi dan bermain gitar sambil menunggu jadwal mudik. Penampilan mereka santai: berkaus, tanpa sarung dan peci, bahkan ada yang bergaya mirip detektif dengan fedora hat—topi yang sering dikenakan penyanyi Tompi. Bukankah itu gaya anak gaul hari ini?
Gaya hidup terbuka juga berdenyut dalam kehidupan sehari- hari di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Para santri boleh bergaul dengan budaya pop. Saat menyambut tahun ajaran baru, misalnya, digelar acara Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy, yang antara lain berisi lomba olah vokal.
Pada momen itu, para santri menyanyikan lagu-lagu pop, katakanlah, seperti grup Nidji atau ST12. Selain berdendang, mereka mahir memainkan gitar, drum, atau keyboard. ”Silakan saja, asalkan lagu-lagunya tidak bernada asmara yang cengeng dan murahan,” kata Wakil Direktur Kulliyatul Mu’allimin al Islamiyah (Lembaga Pendidikan Tingkat Menengah) Nur Hadi Ihsan.
Kehidupan Pesantren Pabelan dan Gontor memang sangat cair. Para santri asyik bergumul dengan budaya Barat, termasuk dengan ikon pop Amerika. Ini seperti menyempal dari citra umum pesantren selama ini: asrama tradisional, berjarak dari dunia luar, serta para santri bersarung- berpeci yang berkutat dengan kitab-kitab berbahasa Arab.
Terbuka
Keterbukaan Pesantren Pabelan dan Gontor itu tak saja terlihat dari gaya hidup para santrinya, tetapi juga melebur dalam sistem pendidikan, penggunaan bahasa, serta persentuhan dengan dunia luar. Dua pesantren ini menerapkan sekolah berjenjang dan setara dengan pendidikan nasional, mulai dari madrasah (setingkat SD), tsanawiyah (SMP), aliyah (SMA), hingga jamiyah (perguruan tinggi).
Tak hanya ilmu agama Islam, setiap jenjang juga diperkenalkan pada ilmu umum, seperti fisika, matematika, atau biologi. Sehari-hari, para santri menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Didukung laboratorium modern, mereka digembleng untuk menguasai dua bahasa tersebut agar bisa memadukan ilmu agama dan umum.
Lingkungan pesantren tak menutup diri terhadap dunia luar. Ambil contoh saja Pesantren Pabelan yang sering kedatangan tamu dengan latar belakang profesi dan agama berbeda. Semasa hidupnya, almarhum Romo Mangunwijaya, pastor yang juga arsitek di Yogyakarta, sering menginap di pesantren ini.
”Kami siap untuk sharing, bertukar pikiran dengan siapa pun,” ujar salah seorang pengasuh Pesantren Pabelan, Ahmad Najib Hamam.
Keterbukaan untuk memahami agama-agama di luar Islam diperkenalkan lewat mata pelajaran Adyan. Pelajaran yang mulai diberikan kepada santri kelas II madrasah aliyah itu mengkaji berbagai ajaran agama yang berbeda. Dengan begitu, santri dan ustaz tak ragu bergaul dengan umat agama lain.
Contohnya, saat liburan sekolah, para santri dan siswa-siswa SMA Van Lith, sekolah Katolik, bergantian saling mengunjungi untuk bermain basket bersama. Salah seorang pengajar Pesantren Pabelan, bahkan, tercatat sebagai guru tetap di SMA Van Lith.
Mercusuar
Dari mana kesadaran keterbukaan di dua pesantren itu berasal? Itu tak lepas dari visi untuk menjadikan pesantren sebagai media menumbuhkan iklim berpikir moderat. Pesantren Gontor, contohnya, sudah lama memegang moto ”berpikir bebas”.
”Kebebasan di sini meliputi keleluasaan bersikap, memilih, dan berkreasi, sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah Islam,” kata Nur Hadi.
Menurut Direktur Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism M Syafi’i Anwar, semangat keterbukaan seperti di Pesantren Pabelan dan Gontor sebenarnya juga tumbuh di banyak pesantren di Indonesia. Sikap ini patut dikembangkan demi memperkuat nilai-nilai keberagaman (pluralisme), tasamuh (toleransi), moderat, dan kearifan di kalangan umat Islam. Saat lulus nanti, alumninya bisa ikut membangun masyarakat beradab yang menghargai kemajemukan.
”Pesantren-pesantren seperti itu adalah mercusuar yang mencerahkan masyarakat,” katanya.
(ryo/iam)

SEJARAH SOSIAL

400 Tahun Hidup Rukun

Kompas, Minggu, 5 September 2010 | 03:25 WIB
undefined
KETUT SYAHRUWARDI ABBAS
Sejumlah orang di Pegayaman, Sukasada, Buleleng, Bali, sedang mengarak sokok saat memperingati Maulid Nabi (Muludan). Tradisi sokok ini menggambarkan akulturasi dengan tradisi mengusung pajegan dalam upacara Hindu di Bali.
ILHAM KHOIRI

Desa Pegayaman, Sukasada, Buleleng, Bali, lahir dari diplomasi perdamaian antara Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17 Masehi. Dengan semangat perdamaian pula, kerukunan antara komunitas Muslim dan masyarakat Hindu di situ tumbuh dan berakar kuat sampai sekarang.
Asal-usul Pegayaman merujuk pada cerita Kerajaan Buleleng di bawah kepemimpinan Ki Panji Sakti (sekitar 1629-1680). Suatu ketika, raja ini menyerbu Blambangan (sekarang Banyuwangi, Jawa Timur), yang kala itu di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Mataram memilih berdamai dengan mengirimkan hadiah beberapa ekor gajah disertai delapan perwira.
Menurut Ketut Syahruwardi Abbas, pengamat budaya kelahiran Pegayaman, kemungkinan besar para perwira itu prajurit pilihan dari Mataram. Babad Buleleng menyebut mereka sebagai ”Wong Solo”, mungkin karena memang berasal dari Solo yang merupakan wilayah Mataram. ”Merekalah nenek moyang masyarakat Pegayaman,” katanya.
Kedelapan perwira itu diberi tempat tinggal di hutan di atas perbukitan, berjarak sekitar delapan kilometer dari pusat Kerajaan Buleleng. Lantaran penuh pohon gayam, kawasan itu kemudian dinamai Pegayaman. Konon, mereka ditempatkan di situ sekaligus sebagai tameng terhadap serangan Kerajaan Mengwi.
Babad Buleleng mencatat, warga Pegayaman yang jadi tameng itu disebut sebagai tindih atau pembela. Dari sini, hubungan Kerajaan Buleleng dan para perwira Mataram di Pegayaman makin kental. Mereka dihormati, menetap, menikah dengan perempuan setempat, beranak-pinak, dan membangun rumah-rumah dan sebuah perkampungan.
Mereka juga meneruskan kehidupan agama Islam. Sebuah Masjid Jami’ Safinatussalam didirikan di bagian barat desa. Salat, zakat, puasa, dan berbagai ritual syariat lain dijalankan secara bebas.
Meskipun beda agama, sejak awal masyarakat Pegayaman berusaha hidup rukun dengan masyarakat Hindu. Mereka menganggap umat Hindu sebagai saudara; begitu pula sebaliknya. Mereka bekerja sama, terutama dalam pertanian dan perdagangan.
Lebih dari itu, kaum Muslim itu juga menyerap berbagai tradisi Bali dalam kehidupan sehari-hari. ”Mereka sangat paham bagaimana memasukkan budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mengganggu syariat Islam. Simbol-simbol agama Hindu juga tak diusik sehingga tak menyinggung umat Hindu,” kata Abbas.
Lima banjar
Seiring waktu, kampung ini tumbuh semakin besar. Sejumlah pendatang dari Bugis ikut bergabung. Bersama masyarakat Bali lain, mereka bertahan dari berbagai gejolak dan perubahan zaman. Setelah Indonesia merdeka, kampung itu kemudian menjadi desa seluas 15,84 kilometer persegi.
Desa ini sekarang terbagi dalam lima banjar: Banjar Dauh Margi (Barat Jalan), Dangin Margi (Timur Jalan), Ubu Lebah, Kubu, dan Banjar Amertasari. Total penduduknya sekitar 5.600 jiwa. Sekitar 90 persennya beragama Islam.
Masyarakat di sini hidup rukun bersama masyarakat Hindu di desa-desa sekitarnya, seperti Desa Gitgit di selatan, Desa Silangjana di utara, serta Desa Katiasa di tenggara. ”Kami berhubungan dengan warga Pegayaman sebagai manusia. Selama ini mereka baik, dan kami juga baik pada mereka. Belum pernah ada pertikaian karena agama,” kata Putu Arde (42), warga Hindu dari Desa Gitgit.
Jika dihitung sejak kedatangan perwira Mataram pada abad ke-17 Masehi sampai sekarang, berarti kerukunan di Pegayaman telah bertahan selama 400 tahun lebih. Kenapa bisa sekuat dan bertahan selama itu?
”Karena kerukunan di sini lahir dari niat membangun perdamaian dan berkembang secara alamiah lewat sejarah panjang. Semangat ini diwariskan turun-temurun sehingga bisa bertahan sampai sekarang,” kata Ketut Muhammad Qaunain (49), Sekretaris Pengurus Masjid Safinatussalam.
Tantangan
Tentu saja, pencapaian itu tak diperoleh dengan mudah. Banyak tantangan yang kerap menggoda mereka untuk untuk larut dalam konflik. Perseteruan sosial-politik di tingkat nasional dan lokal jadi ujian paling berat, sekuat apa masyarakat menjaga komitmen hidup dalam kerukunan.
Ujian terbesarnya adalah peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) tahun 1965. Demi berebut kekuasaan, elite politik kala itu memobilisasi massa dan berusaha memanfaatkan berbagai sentimen di masyarakat, termasuk agama. Diperkirakan, ribuan warga Bali menjadi korban pembunuhan besar-besaran, termasuk masyarakat di Pegayaman dan sekitarnya.
”Di Bali, gesekan saat itu lebih terasa akibat sentimen perbedaan ideologis, ketimbang agama. Bentrokan terjadi antara kelompok PKI dan non-PKI,” kata I Dewa Gede Palguna, tokoh masyarakat Bali sekaligus dosen pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.
Sebagaimana di hampir seluruh wilayah Indonesia, sejarah gelap itu menimbulkan luka. Perlahan, trauma itu kian mereda. Tahun 1998-1999, negeri ini kembali terguncang setelah Orde Baru runtuh. Saat banyak wilayah lain rusuh, wilayah Pegayaman cukup tenang.
Ujian besar datang lagi. Bom Bali meledak tahun 2002 dan 2005. Meski aksi teror ini kerap dikaitkan dengan Islam, pencitraan itu tak mengusik kerukunan di Pegayaman dan Bali secara umum. Apalagi, beberapa penolong pertama korban bom itu justru orang Islam.
”Islam sama sekali tak mengajarkan kekerasan, apalagi membunuh orang-orang secara membabi buta. Setelah bom, sikap warga Bali tak berubah pada kami,” kata Wayan Muhammad Urwatul Wusqo (70), sesepuh sekaligus Ketua Pengurus Masjid Safinatussalam di Pegayaman.
Gesekan-gesekan kecil tentu tetap muncul, katakanlah seperti kenakalan remaja atau kesalahpahaman. Apalagi, persaingan pada pemilu atau pilkada belakangan ini juga sering memanfaatkan sentimen agama. Namun, sampai kini, masyarakat Pegayaman dan warga Bali di sekitarnya mampu mengatasinya secara arif.
Agaknya tempaan zaman itu justru menumbuhkan semacam kekebalan yang mampu melindungi kerukunan di Pegayaman. Sejarah yang panjang, kesadaran akan kepentingan bersama, dan harmoni yang tercipta secara alamiah menciptakan pemahaman dasar: perdamaian adalah modal utama untuk membentuk kehidupan yang beradab.
”Sikap ini patut dipertahankan demi mengatasi berbagai konflik dan menjaga perdamaian di Bali,” kata sosiolog dari Universitas Udayana, Ketut Sudiana Astika. (Ayu Sulistiyowati)

Pangeran Charles: Prinsip Spiritual Islam Selamatkan Dunia

Pangeran Charles: Prinsip Spiritual Islam Selamatkan Dunia

London (ANTARA) – Putera Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles mengakui, mengikuti prinsip-prinsip spiritual Islam akan dapat menyelamatkan dunia.

Hal itu disampaikan Pangeran Charles dalam pidatonya yang bertema “Islam and the Environment” di gedung Sheldonian Teater, Universitas Oxford, Oxford, Inggris, demikian dilaporkan harian terkemuka Inggris Daily Mail, Kamis.

Dalam ceramahnya selama satu jam di hadapan para sarjana studi Islam di Oxford, Pangeran Charles berargumen bahwa kehancuran manusia dunia terutama bertentangan dengan Islam.

Untuk itu ia mendesak dunia untuk mengikuti prinsip-prinsip spiritual Islam untuk melindungi lingkungan.

Menurut ayah Pangeran William dan Harry, arus `pembagian` antara manusia dan alam ini disebabkan bukan hanya oleh industrialisasi tetapi juga oleh sikap kita terhadap lingkungan – yang bertentangan dengan butir-butir “tradisi suci”.

Pangeran itu yang menganut agama Kristen yang akan menjadi kepala Gereja Inggris bila naik tahta menjadi Raja Inggris berbicara secara mendalam mengenai Alquran yang dipelajarinya sendiri.

Charles mengatakan bahwa “tidak ada pemisahan antara manusia dan alam” dan mengatakan “kita harus selalu hidup dalam lingkungan yang terbatas.”

Ia berbicara kepada para sarjana di Pusat Studi Islam Oxford dalam rangka dan mencoba untuk mendorong pemahaman yang lebih baik dari budaya dan peradaban agama.

Dalam pidato menandai ulang tahun ke-25 Pusat Studi Islam Oxford, tempat ia menjadi pelindungnya, Charles mengajak untuk memahami agama dengan mata pelajaran favorit lain seperti lingkungan.

“Islam selalu mengajarkan keseimbangan dan bila kita mengabaikannya sangat bertentangan dengan penciptaan,” demikian Pangeran Charles.

Melampaui Saintisme dan Religionisme

Samsul Ma’arif Mujiharto, pendidik pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Suatu ketika penulis bertemu dengan pedagang minyak wangi dan perlengkapan ibadah di sebuah masjid di Yogyakarta. Dari perbincangan singkat dengannya, terungkap bahwa dia jebolan mahasiswa biologi di sebuah perguruan tinggi.1animated1834

Lantaran tidak menerima Teori Evolusi, yang notabene merupakan salah satu teori penting dalam biologi, akhirnya dia memutuskan berhenti kuliah. Sebab, baginya evolusi seturut dengan penegasian Tuhan dalam skenario penciptaan manusia.

Pada kesempatan lain, penulis juga sempat menjumpai mahasiswa fakultas hukum yang gelisah karena harus mempelajari hukum positif, bukan hukum Islam (baca: syariah). Padahal, dalam keyakinannya, tak berguna mempelajari hukum sekuler. Belakangan dia kemudian memutuskan untuk keluar dari fakultas hukum dan pindah ke salah satu perguruan tinggi agama.

Dua petikan kisah di atas mengilustrasikan adanya persoalan dalam tata hubungan sains dan agama. Sains terus dihadap-hadapkan dengan agama yang pada gilirannya harus dipilih salah satunya. Menerima sains pada saat bersamaan harus menegasikan agama, begitu sebaliknya. Sehingga yang kerap dirasakan adalah konfrontasi yang dalam bahasa Ian Barbour (2000) dicatat sebagai “konflik” (saling berbenturan). Selain model konflik, Barbour menggenapi tipologinya dengan tiga model yang lain, yaitu independensi (saling otonom), dialog (saling mengisi), dan integrasi (melebur jadi satu).

Meletakkan sains dan agama dalam relasi konflik berkonsekuensi menutup rapat adanya wilayah irisan di antara keduanya. Antara agama dan sains rasanya mustahil dilakukan kerja sama. Akibat paling ekstrem dari model ini adalah adanya kecenderungan untuk saling mengekspansi wilayah otoritas pihak lawan (Stenmark, 2004). Ekspansi sains terhadap agama melahirkan saintisme atau absolutisme ilmiah yang menengarai bahwa semua fakta (hanya) bisa didekati dengan sains, atau setidaknya bisa direduksi menjadi pengetahuan saintifik (Stenmark, 2001).

Sains pun menjanjikan kemampuan menjawab semua persoalan, termasuk persoalan yang secara tradisional berada di bawah otoritas agama atau etika. Ekspansi ini bisa pula dibaca sebagai upaya sains menggeser tapal batas ke wilayah non-empiris, semisal agama dan etika. Model ini diperankan dengan sangat baik oleh Richard Dawkins, seorang biolog ateis dari Universitas Oxford yang menolak eksistensi Tuhan, karena sains (terutama evolusi) secara teknis tidak bisa membuktikan keberadaan “sang pembuat jam suci” (blind watchmaker*) yang “serba-merencanakan”.

Secara berlawanan, religionisme menolak saintisme karena mencurigai saintisme ditopang oleh metafisika materialisme. Materialisme dinilai berbahaya, selain karena berpotensi menggusur peran kekuatan adi-kodrati, juga dinilai berperan dalam mendorong percepatan destruksi. Sebagai gantinya, pendukung religionisme atau ideologisasi sains mengajukan proposal bahwa yang paling layak dijadikan acuan utama atas segala persoalan adalah agama. Model ini dirayakan mereka yang mendorong pentingnya agama dalam menginspirasi dan atau memagari sains dari pembajakan oleh materialisme. Sebut saja sains Vedik dan sains Islam sebagai contoh yang secara berurutan mengambil Weda dan Quran sebagai sumber pengembangan sains.

Melampaui

Dalam hal ini penulis mencatat, baik saintisme maupun religionisme sama-sama menyisakan persoalan. Sains memang menjanjikan akurasi yang didapat dari ketepatan metode yang verifiable. Namun, saintisme (dengan imbuhan “isme”) berbahaya lantaran sains dijadikan sebagai satu-satunya alat dan prosedur untuk mendekati dan menuntaskan persoalan.

Persoalan senada juga menghinggapi religionisme. Alih-alih mengupayakan pembersihan sains dari ideologi tertentu, semisal materialisme, pendukung religionisme justru menggantang ideologi lain untuk didesakkan ke dalam kerja-kerja sains. Kalau toh agama absah untuk dilibatkan, persoalan berikutnya adalah di level mana agama didesakkan. Bila di level metodis, bukankah metode adalah sesuatu yang (seharusnya) netral dan bebas-nilai? Namun, bila di level praktek, batasan apa yang tepat agar kerja-kerja sains tidak dihukum sebelum diadili?

Jawaban atas pertanyaan itu pun tidak bisa diberikan oleh pendukung restriksionisme ilmiah dan religius. Yakni, mereka yang menganggap “perang” antara agama dan sains adalah salah, sebab, baik agama maupun sains merupakan “magisteria” otonom dan tidak bisa saling mengintervensi, atau biasa disebut prinsip NOMA (Non-Overlapping Magisteria) (Stenmark, 2004).

Penulis berpendapat bahwa baik saintisme maupun religionisme tidak bisa diandalkan lantaran mudah terjebak dalam pencampuradukan argumentasi ilmiah dengan argumentasi filosofis (dan teologis). Demikian halnya dengan restriksionisme yang meniscayakan pengkaplingan eksak antara sains dan agama. Padahal, mestikah sains dan agama selalu dihadapmukakan secara diametris? Benarkah distingsi sains dan agama dipisahkan tembok tak tertembus? Ataukah ada ruang interseksi di antara keduanya?

Memang jelas, tidak ada jawaban a priori tunggal untuk menjawab persoalan tentang sains dan agama. Sepakat dengan Stenmark, penulis menilai bahwa baik sains maupun agama tidaklah monolitik yang bisa dihubungkan layaknya benda padat yang secara solid bisa saling dipertukarkan dan dicampuradukkan secara semena-mena. Diperlukan kesadaran bahwa hubungan sains dan agama mesti dipahami dalam bingkai praktek-praktek sosial. Kesadaran ini mensyaratkan sikap rendah hati dengan tidak ambisius men-segala-kan persoalan dengan satu kacamata tertentu. Sebangun dengan kesadaran yang sama, tindakan ekspansif ataupun restriktif baik ilmiah maupun religius pun pada gilirannya bisa dihindari. * Koran Tempo Edisi 14 Desember 2008

Agama esensinya seni dan teori mereka-ulang manusia. Manusia bukanlah ciptaan yang selesai.
— Edmund Burke
Negarawan Irlandia (1729-1797)

Buatlah agar agamamu lebih mengurangi teori dan memperbanyak kasih.
— Gilbert K. Chesterton
Penulis Inggris (1874-1936)

Aku telah berdoa selama 20 tahun dan tak mendapat tanggapan apa pun, sampai aku berdoa dengan kedua tanganku.
— Frederick Douglass
Penulis Amerika (1817-1895)

Moralitas adalah kepentingan tertinggi–tapi bagi kita, bukan bagi Tuhan.
—- Albert Einstein
Fisikawan dunia (1879-1955)

Sembahyang tak mengubah Tuhan, tapi ia mengubah yang bersembahyang.
— Soren Kierkegaard
Filsuf Denmark (1813-1855)

Kita sudah punya cukup agama untuk membuat kita saling membenci, namun kurang cukup untuk membuat kita saling mengasihi.
— Jonathan Swift
Penulis Irlandia (1667-1745)

Kiai Hasyim Asy’ari dan Bung Hatta

kaligrafi1SAMBIL menunggu jam penerbangan Yogyakarta- Jakarta, tanpa disengaja saya berjumpa teman dan guru saya, KH Dr Agil Siraj, yang pernah tinggal dan menuntut ilmu di Arab Saudi selama 13 tahun.

Saat berbincang-bincang mengamati perkembangan dakwah Islam di Indonesia belakangan, secara ringan dia mengungkapkan komentarnya yang membuat saya terhenyak. “Mestinya kita belajar dari Bung Hatta dan Kiai Hasyim Asy’ari,” katanya. “Apa maksud Ustaz?” tanya saya. Coba lihat, Bunga Hatta lama tinggal di Eropa, tetapi tetap menjadi orang Indonesia.

Menjaga dan memperjuangkan kepribadian Indonesia. Begitu pun Kiai Hasyim Asy’ari, kakeknya Gus Dur. Bertahun-tahun belajar dan tinggal di Arab Saudi, tetapi tetap menjadi orang Indonesia. Berpakaian dan berperilaku sebagai muslim Indonesia. Keduanya sangat mencintai Indonesia. Berjuang dan berkorban demi kejayaan Indonesia. Sampai di situ saya semakin dibuat merenung, ingin mendengarkan komentar lebih lanjut dari teman asal Cirebon dan meraih doktor dari Universitas Ummul Qura ini.

Meski Bung Hatta lama di Barat, mendalami ilmu dari Barat, tapi beliau berani berkonfrontasi dengan Barat ketika kekuatan Barat merugikan bangsanya sendiri. Begitu pun Kiai Hasyim. Dalam banyak hal yang sangat mendasar bahkan beliau mengkritik tradisi dan pemikiran Islam yang tumbuh di Arab Saudi, yang dikenal literalistik dan kurang menghargai tradisi.

Meski tampak sepele, ternyata Ustaz Agil juga mengamati masuknya pengaruh pakaian Arab ke Indonesia. Kiai Hasyim dan kiai-kiai lain yang lama belajar di Arab Saudi dan Timur Tengah tidak mempromosikan pakaian gamis model Arab. Beliau hanya mengenakan pakaian gamis sewaktu salat saja. Tetapi ketika ke luar rumah, semuanya berpakaian Indonesia.

“Saya sendiri yang lama tinggal di Arab Saudi kadang jadi heran, mengapa pakaian gamis model Arab semakin populer di Indonesia, dipakai di mana-mana, bahkan untuk berdemonstrasi di jalanan dan di lapangan Monas,” kata Ustaz Siraj dedengkot NU ini. Dalam hati saya bertanya, apakah pendapat semacam ini hanya dimiliki Ustaz Agil Siraj ataukah juga ulama-ulama NU yang lain?

Apakah semakin meluasnya pakaian model Arab menunjukkan naiknya semangat Islam Indonesia yang datang dari Arab? “Ada orang Indonesia yang kebarat-baratan, ada pula yang kearab-araban. Mengapa kita tidak bercermin dan belajar dari Bung Hatta dan Kiai Hasyim,” gugatnya lagi. Para kiai saya dulu, lanjutnya, kalau mengajar membaca Alquran pada santrinya sangat tegas dan keras.Kalau salah tajwidnya, yaitu cara benar membaca Alquran, beliau marah.

Bahkan ada yang sampai memukul dengan lidi, sehingga para santri harus serius belajar karena takut kena marah dan kena pukul. Tapi yang sangat mengagumkan, begitu bergaul dengan masyarakat dan menyampaikan dakwah, para kiai dulu sangat lembut dan santun. Dengan sabar mereka membimbing umat ke jalan yang benar dan tidak pernah menggunakan kekerasan.

Tak ada teriak-teriak sambil mengacung-acungkan pentungan. “Mereka belajar dari cara dakwah Wali Songo yang memang sangat cocok untuk masyarakat Indonesia,” lanjut Ustaz Agil. Karena sikapnya yang bijak, sabar dan lembut itu, maka Islam menjadi agama yang dipeluk mayoritas bangsa ini dan secara perlahan tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam diluruskan, bukan dengan jalan kekerasan dan permusuhan. Ketika asyik bincang-bincang, terdengar panggilan untuk naik pesawat.

Sepanjang perjalanan saya renungkan kembali apa yang disampaikan Ustaz Agil, termasuk kritiknya yang cukup tajam terhadap fenomena pesantren, kiai, dan politik. Menurutnya, dulu para kiai dan pesantren sangat independen secara ekonomi dan politik sehingga wibawanya disegani oleh pemerintah dan masyarakat. Pesantren dulu ibarat sumur, orang berdatangan untuk menimba air, minta berkah, dan wejangan pada kiai, termasuk para pejabat negara.

Bahkan ketika orangtua melahirkan bayi, mereka datang untuk meminta nama bagi anaknya. Ketika sebuah keluarga akan membagi harta waris, mereka minta fatwa pada kiai. Kiai dulu tidak pernah minta bantuan ke pemerintah atau siapa pun. Sebaliknya, justru bantuan yang berdatangan tanpa diminta dan diundang.

Sekarang suasana sudah berubah. Sudah muncul kekuatan baru yang namanya negara dengan jaringan birokrasinya, dari tingkat presiden sampai lurah, bahkan RT/RW. Sangat disayangkan, pemerintah dan politisi ikut merusak kultur pesantren yang semula mandiri menjadi kian melemah dan tergantung pada negara. Para politisi datang menawarkan berbagai bantuan dengan imbalan agar mereka memberikan dukungan politik setiap pemilu atau pemilihan kepala daerah.

Repotnya lagi, kalangan kiai dan pesantren juga sulit menolak karena mereka memerlukan dana, baik untuk pesantren maupun untuk diri dan keluarganya. Bahkan ada kiai yang senang meminta-minta bantuan kepada pejabat pemerintah. Mestinya, baik para politisi, pemerintah, maupun dunia pesantren saling menjaga integritas dirinya, bukan saling menjatuhkan dan menggerogoti wibawanya.

Kalau sudah saling menjatuhkan, yang rugi adalah negara, umat, dan bangsa. Negara yang maju dan kuat adalah negara yang masyarakatnya mandiri, dibentuk melalui pendidikan yang baik, dan lapangan kerja yang tersedia. Masyarakat yang bodoh dan miskin pada akhirnya akan menjadi beban negara, bahkan potensial menjadi musuh negara.

Bayangkan, bagaimana kita akan memasuki kompetisi tingkat global kalau energi negara dan masyarakat habis terkuras untuk berantem, bukannya saling mendukung untuk membangun bangsa. Itulah yang pernah terjadi di Aceh dan di beberapa tempat lain. Aset dan energi bangsa, baik berupa uang, sumber daya alam, budaya, agama maupun militer, mestinya diarahkan untuk hal-hal produktif demi memajukan bangsa. Bangsa ini tengah mengalami situasi mismanagement alias salah urus.

Para politisi lebih sibuk mengurus dirinya katimbang rakyatnya. Dua tokoh yang dikemukakan Ustaz Agil, yaitu sosok Kiai Hasyim Asy’ari dan Bung Hatta, adalah dua figur bapak bangsa yang pantas dan bahkan harus diteladani. Bertemu dalam keduanya kedalaman dan keluasan ilmu, integritas yang kokoh, patriotisme tinggi, dan sangat santun dalam berpolitik. (*)
Dikutip dari http://www.okezone.com, Jum’at, 31 Oktober 2008 – 09:46 wib
PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
REKTOR UIN SYARIF HIDAYATULLAH

Mualim Syafi’i dan Berislam Gaya Jakarta

(Okezone Jum’at, 11 Juli 2008 – 17:35 wib)

Oleh Hamzah Sahal*
Di salah satu milis yang digunakan kawan-kawan NU berkomunikasi, saya menjumpai salah satu aktivis milis bernama Muhammad Muallim. Nama belakang saudara Muhammad ini, yaitu Mualim, mengingatkan saya pada sebuah tulisan pendek berjudul “Mualim Syafi’i”. Penulisnya KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur, dimuat di majalah mingguan Tempo awal tahun 80-an. Tentu saya tidak membacanya pas majalah tersebut terbit, saya membacanya di kliping milik seorang kawan ketika mondok di pesantren Krapyak Yogyakarta, 10 tahun yang lalu. Sebab, tahun 80-an saya masih “balita”.

Yang dimaksud Mualim Syafi’i, baik dalam tulisan Gus Dur maupun tulisan ini adalah almarhum KH Abdullah Syafi’i, perintis majlis taklim, perguruan dan pesantren Asyafi’iyah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Gus Dur menulis Mualim Syafi’i untuk mengenang sikap dan pandangannya. Tulisan Gus Dur itu terbit tidak lama setelah Mualim Syafi’i pergi ke alam barzah.

Dalam tulisan itu, Gus Dur menyampaikan paling tidak dua poin penting. Pertama, komunitas muslim di Jakarta (Islam Jakarta) lebih dekat dengan budaya Arab ketimbang komunitas Islam di daerah lain di pelosok Nusantara ini. Kentalnya budaya Arab di Jakarta bukan semata-mata karena ada banyak habib/sayid yang di kalangan Islam Indonesia harus dihormati (khususnya komunitas muslim berkultur NU), atau ada kampung Pekojan yang dipenuhi Golkar, Golongan Keturunan Arab. Lebih dari itu, demikian kata Gus Dur.

Ke-Arab-an yang memasyarakat di Jakarta juga, kata Gus Dur, dikarenakan banyaknya orang Betawi belajar di Timur Tengah (Mekah dan Kairo). Dengan demikian, secara otomatis budaya Arab mengikutinya. Tentu saja di sana ada proses akulturasi, tidak mentah-mentah budaya Arab -seperti juga budaya lain- begitu saja memasyarakat.

Gus Dur mencontohkan betapa kata ganti “ane” untuk orang pertama dan “ente” untuk orang kedua “menjadi betawi,” berjalan beriringan dengan “gue” dan “elu”. Bahkan, orang asli di Tegalparang, Mampang Prapatan, lebih mudah menyebut “nyahi” ketimbang “minum teh”. “Nyahi” berasal dari bahasa Arab “Syahi,” yang berarti teh. Karena itu, tidak mengherankan jika orang Jakarta menyebut “Mualim” untuk orang pandai ilmu agama serta istiqomah mengajarkannya kepada masyarakat umum. Gus Dur berkelakar, sebutan Mualim bukan lantaran mampu mengemudikan kapal. Gelar Mualim lebih tinggi ketimbang Ustadz. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, “Mualim” setingkat dengan “Kiai,” sementara “Ustadz” setingkat dengan “Guru”

Mualim Syafi’i diberi gelar “Kiai” belumlah lama. “Kiai” dipakai di populer setelah ada Jawanisasi. Jawanisasi yang paling terasa berbentuk migrasi para ulama Jawa ke Jakarta. Mungkin yang dimaksud Gus Dur adalah banyaknya kiai Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Kiai Wahid Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah, dll, banyak bolak-balik, Jakarta-Jombang, dan lain-lain, bahkan kemudian menetap di Jakarta karena menduduki jabatan yang mengharuskan tinggal di Jakarta. Kalau benar, berarti migrasi besar-besaran terjadi sekitar awal abad 20, di saat orang di luar datang ke Jakarta dalam rangka mengentalkan gerakan kemerdekaan dari pemerintahan kolonial.

Poin kedua yang disampaikan Gus Dur adalah, ke-keukeh-an dan kekonsistensi Mualim Syafi’i dalam menumpulkan dampak negatif dari modenisasi/liberalisasi. Spiritualitas yang ditawarkan Mualim Syafi’i, mampu mengatasi kekeringan jiwa manusia yang terhimpit oleh kehidupan yang berorientasi serba benda. Solidaritas yang dibangun Mualim Syafi’i merupakan penangkal terhadap rasa keterasingan, akibat terurainya ikatan-ikatan sosial lama dalam kehidupan berumah tangga dan bertetangga atau bermasyarakat. Kekuekehan Mualim Syafi’i misalnya, berwujud pada penentangan kebijaksanaan mencari dana melalui perjudian di masa gubernur almarhum Ali Sadikin. Begitu juga kebijaksanaan penggusuran pekuburan dari Karet ke Tanah Kusir. Semua sanggahan Mualim Syafi’i berdasarkan ajaran agama, sehingga terasa mencekam.

Tapi Mualim Syafi’i tetap bergaul hangat dengan Ali Sadikin, meskipun sang gubernur tetap saja mengizinkan dan melegalkan perjudian. Gus Dur kemudian melontarkan pertanyaan, apakah Mualim Syafi’i tidak lagi menjalankan perintah agama (amar ma’ruf dan nahi munkar)? Mualim Syafi’i tidak konsisten? Apakah ia telah terbuai persahabatannya dengan Ali Sadikin?

Ternyata tidak, demikian kata Gus Dur. Sebabnya sederhana saja, Mualim Syafi’i tahu betul batas peranan yang harus dimainkannya sebagai mubaligh/pendakwah, yaitu sebatas mengajarkan pendirian ajaran agama, tidak lebih, bukan menentang pemerintah, juga bukan menyusun kekuatan (machtsvorming) untuk memaksakan pendirian. Kalau pendirian agama sudah dirasa cukup disampaikan, sudah gugur kewajiban agama, kewajiban seorang pendakwah (mubaligh). Bahkan, tingkatan seorang rasul sekalipun, hanya sebatas “menyampaikan,” bukan “menjadikan”. Jangan sampai kewajiban berdakwah merusak kewajiban lain yang juga harus dijaga keberlangsungannya, yaitu menjaga ukhuwah islamiyah (ukhuwah islamiyah bermakna membangung persaudaraan berdasarkan nilai-nilai Islam, bukan bersaudaraan sesama komunitas muslim).

Dari sini, dapatlah dipahami bahwa berdakwah tak perlu merusak pergaulan dan karakteristik bermasyarakat, yaitu keanekaragaman, baik menyangkut keyakinan beragama dan keyakinan ataupun pendapat. Menyampaikan ajaran agama tak perlu menegangkan urat leher, apalagi kekerasan. Dengan demikian, jelaslah bahwa kehangatan antara Ali Sadikin dengan Mualim Syafi’i bukanlah oportunisme, bukanlah loncatan untuk meraih ambisi pribadi. Sebaliknya, yang dilakukan oleh Mualim Syafi’i adalah konsistensi dalam menerapkan ukhuwah islamiyah.

Nah, yang ingin saya lontarkan pada kesempatan ini adalah, “Bagaimana jejak ajaran dan sikap Mualim Syafi’i dalam kehidupan di komunitas muslim Jakarta saat ini?

Kenapa pertanyaan ini penting dilontarkan? Jawabnya, pertama, adalah bahwa Mualim Syafi’i merupakan salah satu peletak dasar gaya atau model Islam di Jakarta (Islam Jakarta). Banyak ulama yang masyhur di Jakarta adalah muridnya. Mualim Syafi’i salah satu peletak dasar Islam Jakarta, dengan karakter Islam dan budaya Arab disertai sikap toleransi terhadap kemajemukan kota Jakarta. Ia tahu betul bahwa Jakarta dihuni oleh, bukan hanya pelosok negeri, tapi juga dari penjuru dunia, karena posisinya sebagai ibu kota negara. Semua orang yang tinggal di Jakarta, tanpa kekecualian, harus merasa betah, at home.

Kedua, saya melihat adanya indikasi bahwa ajaran yang diletakkan Mualim Syafi’i sudah mengalami erosi. Kerap sekali saya mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan ataupun khutbah-khutbah sembahyang Jumat berisi hujatan-hujatan terhadap kelompok yang tidak sejalan. Tidak berhenti sampai di situ, penggledahan dan pengrusakan terhadap tempat yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan agama kerap dipertontonkan oleh beberapa komunitas muslim di Jakarta.

Saya bisa memahami kegusaran komunitas muslim di Jakarta terhadap ekses negatif moderenisasi. Tapi, saya sungguh tidak paham, “Kenapa jalan kekerasan itu ditempuh, padahal budaya kekerasan dan intoleransi bukan karakter Islam Jakarta yang telah diletakkan berpuluh-puluh tahun oleh Mualim Syafi’i?

Terakhir, terima kasih buat Muhammad Muallim, nama belakangmu telah berhasil memunculkan ingatan saya dan buat warga Jakarta, selamat merayakan ulang tahun kota Jakarta yang ke-481! Jakarta jaya!

Eko Agus Priyono
Aktifis PP Lakpesdam NU
Jl Narogong Permai I Blok C 12 No 4, Bekasi
8221766 / 08558402010 (//ahm)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: