Informasi Ekonomi Terkini

10 Rahasia Sukses Orang Jepang



1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.
Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).
Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak teman saya yang paling besar sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

RHENALD KASALI

Kelas Menengah yang Rapuh

Kamis, 24 Maret 2011 09:13 wib
Setiap kali mengunjungi teman-teman lama yang bertempat tinggal di Amerika Serikat atau Eropa, sahabat-sahabat saya sering sekali mengajak ”tur keliling rumah”.
Dan setiap kali tur dimulai, mereka dengan senang mengucapkan kalimat yang sama: ”This is a typical house of middle class family.” Mengapa mereka mengatakan demikian? Tentu saja mereka tidak mengklaim diri sebagai kelas atas yang kaya raya. Mereka adalah representasi pekerja keras yang berjuang siang-malam untuk mendapatkan penghasilan layak. Suami meraih gelar doktor dalam bidang IT, bekerja di sebuah vendor perusahaan terkenal di Silicon Valley. Sedangkan istri bekerja di sebuah retail besar, menjadi kasir. Pasangan ini memiliki dua buah mobil, dua anak remaja yang masih bersekolah, dan seekor anjing yang tercatat sebagai anggota keluarga. Garasinya dilengkapi pembuka otomatis dan dapat dikontrol dari mobil. Di bagian belakang ada pekarangan kecil yang ditumbuhi sebuah pohon jeruk sunkist yang rajin berbuah.Tetapi untuk membiayai rumah dan membiayai kehidupan yang layak, suami-istri bekerja penuh waktu. Rumah yang mereka tempati bukanlah rumah milik yang dibeli tunai seperti yang banyak dimiliki kelas menengah Indonesia. Mereka membeli hipotek dengan tenggang waktu 75 tahun. Kalau pemiliknya meninggal dunia, rumah dan asetnya dilelang, pembeli baru membelinya dengan hipotek baru dan bank mendapatkan pelunasannya. Anak-anak tak berharap banyak dari warisan sebab pajaknya tinggi sekali. Lagi pula, mereka umumnya sudah mandiri. Lantas bagaimana kelas menengah di sini?

Orang Kaya Baru

Tahun lalu ADB mengumumkan, sepanjang 2002– 2008, ada 102 juta orang miskin Indonesia yang berhasil naik kelas dan bergabung menjadi kelas menengah. Sedangkan Bank Dunia minggu lalu mengumumkan, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 131 juta.

Kenaikan ini sepertinya memberi legitimasi bagi pemerintah bahwa jumlah orang miskin telah jauh berkurang. Bagi Anda yang kritis, melihat angka sebesar itu (46% dari jumlah penduduk), mungkin Anda akan mengatakan dengan cepat, ”tidak mungkin!” Bahkan sangat mungkin Anda pun sangat tidak senang dimasukkan sebagai kelas menengah. ”Ah, kita kan rakyat kecil saja.” Sekalipun mereka ke kampus atau ke kantor sambil berkendaraan motor atau mobil dan menjinjing dua buah telepon seluler. Begitulah kondisi kita dewasa ini. Kalau lembaga asing yang bicara tidak kita percayai dan sebaliknya apa yang kita katakan tentang diri kita, tidak diamini dunia internasional. Apalagi setiap hari berita yang kita baca hanyalah soal penggunjingan tentang kemiskinan.

Padahal, porsi iklan terbesar di media masa sudah bukan lagi soal sekolah, pertanian, atau pengobatan tradisional, melainkan perbankan, telekomunikasi, asuransi, automotif, logistik, perawatan tubuh (wajah, kulit, dan berat badan), department stores, dan iklan-iklan korporat. Akibatnya, banyak di antara kita yang menjadi serbakebingungan. Apakah data itu dapat dipercaya? Namun anehnya, kebingungan tak terjadi di China dan India. Mereka justru menyambut pengumuman itu dengan suka cita. Akhir tahun lalu, ADB mengatakan, ada 817 juta jiwa baru yang bergabung sebagai kelas menengah di China, dan 274 juta jiwa baru di India. Jadi, Indonesia adalah negara yang kelas menengahnya tumbuh ketiga terbesar di dunia setelah kedua negara tersebut. Dengan angka sebesar itu, mereka melakukan pemasaran tempat (marketing of places) untuk kunjungan wisata dan belanja, perawatan kesehatan, kunjungan spiritual, investasi, dan tempat tinggal bagi pensiunan berkantong tebal.

Mereka ingin terus memacu kesejahteraan baru. Sedangkan di sini, kita justru meragukannya. Kita katakan diri kita rapuh, tidak mandiri, dan berpotensi miskin kembali. Mengapa seperti itu? Saya pikir, obrolan-obrolan seperti itu tidak 100% benar, tetapi juga tidak 100 % salah. Obrolan-obrolan seperti itu hanya mencerminkan lemahnya tiga kepercayaan, yaitu percaya diri (self confidence), percaya pada penguasa (public trust), dan lemahnya kejujuran di hadapan Tuhan (believe in God). Believe, confidence, dan trust sama-sama berarti percaya, ketiganya saling berhubungan dan saling menopang. Ketika satu goyah, yang lain ikut terganggu. Ketimpangan ini adalah indikator kuat untuk menjadi bangsa yang kurang bersyukur, dan muaranya jelas: bangsa yang tidak bahagia. Semua terjadi karena selama kurun waktu yang panjang pemimpinnya gagal mengembalikan kepercayaan.

Dalam era single direction dan pemerintahan otoritatif di masa lalu, kepercayaan dibangun dengan kampanye seduktif melalui pencitraan yang dilakukan lewat pidato, pengarahan, sidang kabinet, iklan-iklan para menteri satu arah, dan public relations. Dalam era demokrasi sekarang, kata partisipasi menjadi kunci yang penting. Partisipasi adalah co-creation, kustomisasi (dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing). Semua diawali dari program dan produk yang benar. Tentu bukan hanya di Indonesia kelas menengah itu rapuh dan mudah terserang depresi. Di Singapura, selama bertahun-tahun warga kelas menengah juga dilanda kecemasan saat negerinya dilanda virus flu burung, SARS, dan sebagainya.

Pariwisata yang menjadi sumber penghasilan utama warga kelas menengahnya lenyap seketika, dan para pekerja sektor jasa begitu mudah jatuh miskin. Demikian pula di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa saat dunia dilanda krisis ekonomi. Mereka dengan cepat berubah menjadi penganggur yang tak mampu membayar sewa rumah dan listrik. Ekspor mereka drop dan kemampuan keuangan kelas menengah hancur. Namun, mengapa mereka tetap pede mengklaim sebagai bangsa kelas menengah dan warga negara sejahtera? Jawabnya adalah peranan negara. Seperti amanat UUD 45 di sini,mereka juga punya pasal yang berbunyi, ”Fakir miskin dan orang-orang terlantar menjadi tanggungan negara.

”Bedanya, di negara-negara sejahtera, pasal itu benar-benar dijalankan, bukan cuma berlalu menjelang pemilu saja.Setelah pemilu, kesejahteraan cuma terbagi di kalangan penguasa dan politisi. Sistem politik kita telah merampas kesejahteraan yang dijamin undang-undang yang memungkinkan bagi rakyat miskin menikmati kesejahteraannya. Anda tentu sudah membaca, berapa besar seorang gubernur terpilih harus mengembalikan modalnya saat berkuasa karena biaya ”mas kawinnya” dengan partai politik sebesar Rp40 miliar.

Belum lagi biaya kampanyenya. Lumrah kalau bagi-bagi kesejahteraan tidak menetes ke bawah. Saya masih ingat saat mengambil program doktor di Amerika Serikat hampir 20 tahun lalu. Sebagai asisten dosen dan peneliti, penghasilan yang saya terima dari kampus sebesar USD1.250 plus asuransi dan bebas uang kuliah.Karena berpenghasilan, maka saya tercatat sebagai pembayar pajak. Tetapi, istri dan anak tidak memiliki asuransi kesehatan. Kami masuk dalam kategori penduduk miskin. Kendati demikian, negara memenuhi kewajibannya.Penduduk miskin berhak menikmati sekolah gratis yang bagus, serta bebas memilih rumah sakit untuk perawatan kesehatan. Tidak perlu antre di tempat kumuh. Pasien miskin menikmati layanan yang sama dengan mereka yang mampu membeli asuransi.

Kalau kehilangan pekerjaan, negara memberi food stamp untuk membeli makanan. Di Singapura, saat pengangguran besar-besaran terjadi, negara juga mengeluarkan tabungannya. Pendidikan, kesehatan,dan kecukupan gizi menjadi perhatian penting. Dan yang lebih menarik, negara turut memasarkan sumber daya manusia (SDM)-nya yang belum mendapatkan pekerjaan. SDM asing dibatasi, pekerjaan diberi keutamaan bagi warga negara, meski perusahaan yang beroperasi adalah multinasional.

Jadi, perbaiki kepercayaan dan jalankan apa yang sudah diamanatkan undang-undang. Lalu berhentilah menjadi penguasa yang tamak. Seperti kata Gandhi, isi bumi ini cukup untuk memberi makan seluruh penduduk bumi, namun tak akan pernah cukup untuk memberi makan satu saja orang yang rakus.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Kemiskinan Turun, Kelaparan Naik

Kompas, Rabu, 22 September 2010 | 03:46 WIB
OLEH IVAN A HADAR
Pada 8 September 2000, lewat MDGs, PBB mencetuskan sebuah janji ambisius untuk mengurangi kemiskinan global menjadi separuh dibandingkan dengan kondisi pada 1990.
Kini, sepuluh tahun kemudian, tujuan tersebut bagi sebagian besar negara anggota PBB diperkirakan akan tercapai. Meski di balik keberhasilan tersebut tercatat masih sangat banyak warga dunia yang kehidupannya belum membaik, bahkan tak jarang semakin buruk.
Perkembangan yang paradoks ini sepatutnya menjadi isu utama yang perlu dicermati oleh puluhan kepala negara serta ratusan pejabat tinggi dari seluruh anggota PBB yang bertemu di New York hari-hari ini. Upaya pengurangan kemiskinan yang cukup berhasil layak disyukuri, terutama kemiskinan ekstrem yang turun drastis dari 42 persen (1990) menjadi 25 persen (2005).
Dalam statistik tersebut, yang dianggap miskin adalah mereka yang berpenghasilan kurang dari 1,25 dollar AS per hari. Secara nominal, terjadi penurunan jumlah orang miskin di dunia dari 1,8 miliar jiwa (1990) menjadi sekitar 1,2 miliar (2005). Masih sangat banyak, apalagi ketika melihat perbandingan berikut. Mereka yang dianggap miskin di Eropa berpenghasilan di bawah 30-35 dollar AS per hari.
Kontradiksi
”Keberhasilan” pengurangan kemiskinan global juga terutama berkat perkembangan positif di Asia, khususnya China di mana selama dua dekade terakhir ratusan juta penduduknya mengalami peningkatan sosial ekonomi. Sebenarnya, ketika MDGs dideklarasikan sambil mengamati perkembangan China, ada yang menyebut target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) ”kurang ambisius”.
Porsi besar China bagi pengurangan kemiskinan global menutupi kondisi di bagian dunia lain yang masih suram. Gambaran pemberantasan kemiskinan akan bergeser ketika mencermati kawasan dunia satu per satu. Di selatan Sahara, misalnya, jumlah orang miskin juga berkurang dari 60 persen (1990) menjadi 45 persen (2005). Namun, jumlah tersebut masih jauh dari target.
Gambar positif pengurangan kemiskinan semakin memburuk ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa kelaparan di dunia semakin luas. Saat ini, sekitar satu miliar penduduk dunia menderita kekurangan makanan—sebuah peningkatan sekitar 2 persen dibandingkan dengan kondisi tahun 1990. Artinya, target penurunan tingkat kelaparan menjadi separuh diprediksi tidak akan tercapai.
Peningkatan kelaparan disebabkan oleh melonjaknya harga pangan dan produk agraria secara drastis tiga tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan permintaan berkat semakin makmurnya beberapa negara di Asia. Selain itu, juga adanya momen spekulatif ketika investor finansial berlomba-lomba memasuki pasar produk pertanian dan memicu meroketnya harga.
Beberapa target MDGs juga belum menunjukkan perkembangan yang membesarkan hati. Angka kematian ibu, penyebaran HIV/AIDS dan malaria, pelestarian hutan, serta akses terhadap air bersih dan sanitasi masih jauh dari harapan. Janji negara-negara kaya untuk memberikan 0,7 persen PDB-nya hanya ditepati oleh beberapa negara Eropa.
Kritik terhadap MDGs
Bagi Samir Amin, berbagai kontradiksi tadi bukan sesuatu yang aneh. Baginya, MDGs bukan inisiatif negara miskin, melainkan lebih untuk kepentingan negara maju yang didukung oleh Bank Dunia, IMF, dan OECD. Karena itu, dalam tulisannya, The Millennium Development Goals: A Critique from the South (2010), Samir menuduh MDGs sebagai ”mantel” ideologi bagi kepentingan neoliberalisme.
Target-target MDGs, menurutnya, terlalu samar (vague) dan mudah dipelintir menjadi sejalan dengan kepentingan neoliberal. Tujuan ke-2 MDGs terkait pencapaian pendidikan dasar untuk anak laki-laki ataupun perempuan, misalnya, oleh UNESCO telah diupayakan pencapaiannya pada tahun 1960-an. Dalam waktu 10 tahun, telah banyak yang dicapai. Namun terhenti karena penyunatan dana publik dan privatisasi pendidikan.
MDG, lanjut Samin, juga ”menghindari pertanyaan kritis terkait kebijakan liberalisasi saat ini”. Sementara dalam tujuan ke-7 MDGs, yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup, sama sekali tidak disebut-sebut Protokol Kyoto yang (semasa Presiden Bush) memang ditolak untuk ditandatangani AS.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Samir mencemaskan bahwa proses pemiskinan dan ketidakadilan akan berlanjut, berlawanan dengan tujuan MDGs. Tentang ketersediaan obat-obatan yang murah di negara berkembang sebagai bentuk kerja sama dengan perusahaan farmasi dikhawatirkan masalah monopoli dan hak paten obat tak akan digugat.
Kita berharap kecemasan Samir Amin tidak menjadi kenyataan. Argumentasi Samir Amin hanya bisa dipatahkan lewat kebijakan yang bukan sekadar slogan ”manis”, melainkan juga mencelakakan. Kritik Samir patut dipertimbangkan.
IVAN A HADAR Direktur Eksekutif IDe; Anggota Pokja Forum Kawasan Timur Indonesia

Cerita dari Blora

Kompas, Rabu, 22 September 2010 | 03:35 WIB
Oleh Frenky Simanjuntak

Dalam kumpulan cerita pendeknya, Pramoedya Ananta Toer bertutur tentang kesengsaraan yang dihadapi oleh rakyat Blora pada masa penjajahan dan sesudah kemerdekaan.
Pram menunjukkan betapa perubahan yang terjadi di Blora tidak membuat kehidupan rakyatnya menjadi lebih baik. Kemerdekaan hanya menciptakan perubahan bentuk kesengsaraan yang dihadapi masyarakat Blora.
Menilik situasi yang terjadi di Blora saat ini, terutama pada persoalan pengelolaan kekayaan sumber daya alam minyak bumi, tidak terhindar pikiran saya terbawa ke cerita-cerita dalam karya Pram itu. Apakah potensi minyak dan gas bumi yang disebut-sebut sampai 250 juta barrel itu akan memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya ataukah hanya akan menciptakan persoalan yang justru bisa membawa kesengsaraan?
Baru-baru ini, Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana (LPAW), sebuah organisasi masyarakat sipil, untuk pertama kalinya setelah UU No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, membawa PT Blora Patragas Hulu (PT BPH) dalam sidang ajudikasi di kantor Komisi Informasi Pusat (KIP).
LPAW membawa kasus ini karena PT BPH menolak membuka informasi isi kontrak pengelolaan Blok Cepu antara Pemerintah Kabupaten Blora dan pihak ketiga. Argumen yang dipakai kelompok masyarakat sipil adalah masyarakat memiliki hak mengetahui isi perjanjian kontrak karena merekalah yang akan menerima dampak langsung dari pengeboran minyak di Blora.
Argumen ini didukung antara lain oleh saksi ahli seperti ekonom senior Indonesia, Faisal Basri, dalam kesaksiannya pada Kamis, 26 Agustus 2010. Pihak perusahaan menolak memberikan akses informasi kepada kelompok masyarakat sipil dengan alasan kontrak bersifat rahasia dan tak bisa dibuka kepada umum. Manakah pihak yang benar?
Keterbukaan informasi tentang pengelolaan sumber daya alam yang ditarik dari bumi, atau yang dikenal juga dengan istilah sumber daya ekstraktif, di dunia internasional saat ini makin dipercaya sebagai salah satu cara alternatif pencegahan fenomena kutukan sumber daya (resource curse). Fenomena ini terjadi di banyak negara yang kaya akan sumber daya ekstraktif, tetapi gagal memanfaatkan kekayaan tersebut dan justru terjebak dalam kemiskinan, korupsi, kehancuran lingkungan, dan konflik perebutan sumber daya.
Kasus berlian konflik di Sierra Leone, yang akhir-akhir ini marak pemberitaannya di berbagai media, adalah salah satu contoh dari negara yang terjebak dalam kutukan sumber daya. Nigeria, Kongo, dan Myanmar adalah contoh lain negara di dunia yang tidak berhasil membuat tata kelola yang baik dalam industri ekstraktif sehingga terjebak dalam fenomena yang sama.
Transparansi tata kelola
Persoalan yang terjadi di negara-negara tersebut mendorong timbulnya berbagai inisiatif transparansi di dunia internasional, seperti Kimberley Process untuk tata kelola berlian, atau Extractive Industries Transparency Initiatives (EITI). EITI adalah sebuah inisiatif multipihak yang melibatkan kelompok pengusaha ekstraktif, pemerintah, dan perwakilan masyarakat sipil untuk mendorong proses pelaporan pembayaran perusahaan kepada negara (revenue).
Atas dorongan kelompok masyarakat sipil, Pemerintah RI saat ini sedang dalam proses untuk bergabung dalam EITI. Landasan regulasi penerapan EITI di Indonesia sudah disahkan oleh presiden, melalui Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2010, tentang Transparansi Pendapatan Negara dan Pendapatan Daerah dari sektor Industri Ekstraktif.
Indonesia memang belum terjebak dalam fenomena kutukan sumber daya. Namun, lain ceritanya bila memerhatikan provinsi atau kabupaten di Indonesia yang kaya sumber daya ekstraktif. Papua, provinsi dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, saat ini masih sangat tertinggal dari provinsi-provinsi lain di Indonesia di segi pembangunan, pendidikan, dan kesehatan masyarakatnya.
Aceh juga sama. Provinsi yang pernah menjadi penghasil minyak dan gas yang signifikan di negara ini belum sampai 10 tahun terlepas dari situasi konflik. Riau yang kaya akan minyak adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan Indeks Pembangunan Manusia terendah.
Bagaimana dengan Blora? Sampai saat ini Blora masih tercatat sebagai Kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Tentunya potensi pendapatan daerah dari ekstraksi minyak bumi dapat membuat masyarakat Blora keluar dari kemiskinan. Namun, seperti yang sudah terjadi di banyak tempat, baik di luar negeri maupun di daerah-daerah dalam negeri yang saya contohkan di atas, tanpa adanya suatu sistem tata kelola yang baik, kekayaan sumber daya alam tersebut bisa berubah menjadi kutukan yang menyengsarakan masyarakat.
Dalam buku The Bottom Billion, Paul Collier menjelaskan, banyak negara termiskin di dunia sampai pada situasi tersebut karena gagal keluar dari empat jebakan, yaitu konflik, landlocked, sumber daya alam, dan tata kelola pemerintahan buruk di negara yang kecil. Empat jebakan ini, menurut Collier, yang menyebabkan satu miliar manusia di dunia ini sangat sulit keluar dari situasi sangat miskin.
Dua jebakan Collier yang relevan dalam kasus Blora adalah sumber daya alam dan tata kelola pemerintahan yang buruk. Timika, Aceh, dan Kalimantan Timur adalah contoh-contoh buruk tata kelola sumber daya alam di republik ini. Apakah kita akan membiarkan Blora menjadi contoh berikutnya?
Kesadaran organisasi seperti LPAW tentang pentingnya transparansi pendapatan negara dari industri ekstraktif dapat dijadikan contoh untuk penerapan tata kelola yang lebih baik. Inisiatif yang sudah dimulai oleh pemerintah, dengan adanya UU No 14/2008 tentang KIP dan Perpres No 26/2010, harus terus dikawal dan dijaga momentumnya agar tidak kendur.
Cerita dari Blora seharusnya menginspirasi kita untuk menjaga agar kekayaan sumber daya alam bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat dan bukan justru jadi kutukan yang menyengsarakan.
Frenky Simanjuntak Manajer Tata Kelola Ekonomi, Transparency International Indonesia

Pertumbuhan dan Kemiskinan

Kompas, Kamis, 23 September 2010 | 03:25 WIB
Oleh Robert B Zoellick

Diadopsinya upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals atau MDGs) secara global satu dekade lalu didasari semangat untuk menanggulangi kemiskinan dan kelaparan.
Sebelum dilanda krisis pangan, bahan bakar, dan finansial dua tahun terakhir ini, negara- negara berkembang mengalami kemajuan dalam menanggulangi kemiskinan. Tahun 1981, sebanyak 52 persen penduduk negara berkembang menderita kemiskinan ekstrem; tahun 2005 angka ini turun menjadi 25 persen. Sebelum krisis, negara-negara berkembang di Asia Timur, Amerika Latin, serta Eropa Timur dan Tengah mencatat penurunan kemiskinan yang cukup tajam.
Kendati demikian, kemajuan ini belum terjadi menyeluruh. Sub-Sahara Afrika masih tertinggal dalam penanggulangan kemiskinan. Tingkat kelaparan dan malnutrisi turun, tetapi belum cukup cepat untuk mencapai target penghapusan kemiskinan pada 2015. Masih terlalu banyak penduduk dunia yang menderita kelaparan, berada di bawah garis kemiskinan, atau rentan akan kemiskinan. Masih banyak pula yang menganggur dan tak mendapat akses ke pelayanan publik atau kesempatan ekonomi.
Krisis telah memperburuk keadaan. Bank Dunia memperkirakan, tahun 2010, lebih dari 64 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem (pendapatan di bawah 1,25 dollar AS per hari). Sampai 2015, angka kematian anak balita diperkirakan juga mengalami peningkatan 1,2 juta, sebanyak 350,000 siswa tak akan dapat menyelesaikan sekolah dasar, dan sekitar 100 juta orang tak akan memiliki akses air bersih.
Krisis pangan 2008 mungkin sudah mulai terlupakan, tetapi belum sepenuhnya berakhir. Untuk pertama kali dalam sejarah, lebih dari satu miliar orang di dunia tidur dengan perut kosong setiap hari. Oleh karena itu, kita perlu menggalakkan kembali upaya-upaya untuk membantu masyarakat miskin dan rentan.
Investasi di sepanjang rantai makanan untuk meningkatkan produktivitas pertanian tidak hanya akan membantu mengurangi kelaparan. Investasi ini juga akan membantu menanggulangi kemiskinan karena 75 persen penduduk miskin dunia tinggal di daerah pedesaan di negara-negara berkembang. Mereka mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber mata pencarian.
Negara-negara berpenghasilan rendah perlu membentuk program jaring pengaman yang lebih baik agar bisa melindungi penduduk termiskin serta mengembangkan keterampilan mereka sehingga dapat keluar dari jerat kemiskinan dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Perekonomian dunia sedang mengalami pemulihan tak merata dan tak menentu, tanpa adanya arus pekerjaan. Diperlukan perbaikan dan percepatan penurunan kemiskinan. Banyak kesempatan berinvestasi di negara berkembang dan meraup keuntungan (termasuk di sektor infrastruktur yang dapat mendobrak hambatan pertumbuhan) sekaligus menciptakan permintaan global.
Potensi pertumbuhan tidak hanya terbatas pada segelintir negara berkembang yang selama ini masuk kategori emerging markets. Sebelum krisis, banyak negara berpenghasilan rendah, termasuk di Sub-Sahara Afrika, berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun selama lima tahun berturut-turut berkat penerapan sejumlah kebijakan baru. Peningkatan keterampilan jadi sangat penting dalam menciptakan lapangan kerja yang baru dan lebih baik.
Hal ini sangat penting mengingat negara-negara berkembang dan emerging markets kini menghadapi sejumlah permasalahan demografis. Jumlah pencari kerja di Afrika dan Timur Tengah meningkat drastis, sementara tenaga di Eropa Timur serta Asia Tengah dan Asia Timur kian menciut. Tak kalah penting, upaya mempekerjakan semua orang hingga mencapai tingkat produktivitas tertinggi mereka.
Menciptakan kesempatan
Oleh karena itu, negara-negara perlu memiliki sistem pengembangan keterampilan yang sejak usia dini memerhatikan nutrisi, stimulasi, dan keterampilan kognitif dasar. Sistem yang memastikan semua sekolah memiliki standar jelas, guru berkualitas, sumber daya memadai, dan berorientasi pada prestasi. Sistem yang membentuk keterampilan sesuai kebutuhan modern dengan menekankan pendidikan tinggi dan pelatihan di tempat kerja. Sistem yang mendorong kewirausahaan dan inovasi.
Pemulihan juga bergantung pada sektor swasta. Jika perusahaan-perusahaan dapat menghasilkan laba, mereka akan berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja. Negara perlu memperbaiki iklim investasi dengan membentuk peraturan yang lebih jelas, mempermudah jalannya usaha, serta menyediakan pendanaan untuk UKM, baik untuk investasi swasta maupun untuk masyarakat miskin. Negara juga perlu menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan bebas korupsi.
Bersama mitra-mitra pembangunannya, pemerintah perlu bergerak cepat menciptakan kesempatan lebih luas, termasuk bagi anak gadis dan perempuan, karena perekonomian tidak akan maju berhasil apabila mereka didiskriminasikan. Minggu ini komunitas pembangunan menilik kemajuan mereka dalam mencapai MDGs di Kantor PBB.
Kita harus melihat lebih jauh dari apa yang selalu jadi fokus perhatian, yakni angka-angka pencapaian MDGs—dan melihat apa yang bisa dipelajari di balik angka tersebut. Apa yang berhasil perlu ditingkatkan. Apa yang gagal perlu diperbaiki. Dan sepanjang jalan ini, harus kita sadari, tujuan besarnya adalah pemberdayaan manusia. Semangat dapat mendorong manusia mencapai banyak hal luar biasa. Tiap manusia layak diberi kesempatan untuk berbuat luar biasa.
Robert B Zoellick Presiden Grup Bank Dunia

Rakyat Indonesia Masih Miskin

Kompas, Senin, 20 September 2010 | 04:08 WIB

Jakarta, Kompas – Meski target pengurangan kemiskinan ekstrem dan kelaparan sebagai salah satu sasaran Tujuan Pembangunan Milenium tercapai, pada kenyataannya rakyat Indonesia masih miskin. Pendapatan 1 dollar AS (kurang dari Rp 9.000) per hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Utusan khusus Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs), Nila Djuwita Moeloek, mengemukakan hal tersebut seusai acara Parliamentary Stand Up For MDGs di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Jumat (17/9) pekan lalu.
Tanggal 20-22 September 2010, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan Pertemuan Tingkat Tinggi untuk mengecek kemajuan MDGs. Sekitar 150 kepala negara akan hadir. Delegasi Indonesia dipimpin Kepala Bappenas Armida Alisjahbana. Semua negara harus melaporkan tingkat pencapaian sasaran-sasaran MDGs.
Nila selanjutnya mengatakan, untuk pengurangan angka kemiskinan, Indonesia masih tetap pada jalurnya. Namun, dengan ukuran kemiskinan, yakni pendapatan di bawah 1 dollar AS per hari per orang tentu dipertanyakan kualitas hidup yang dijalani masyarakat dengan pendapatan tepat di ambang batas itu, ataupun sedikit di atasnya yang menurut ukuran itu tidak tergolong miskin.
Proyek global MDGs terdiri atas 8 sasaran yang mencakup pengurangan kemiskinan ekstrem dan kelaparan, peningkatan angka partisipasi pendidikan primer, meningkatkan kesehatan ibu, mengurangi kematian anak, penyebaran HIV/AIDS, kesetaraan jender, memastikan lingkungan yang berkelanjutan, dan meningkatkan kemitraan global.
Saat ini Indonesia memilih menetapkan ambang batas kemiskinan pada pendapatan 1 dollar AS per hari per orang. Angka yang dicapai Indonesia menunjukkan perbaikan.
Tahun 1990, sekitar 20,6 persen penduduk pendapatannya di atas 1 dollar AS per hari. Tahun 2010, dari hasil sensus penduduk, menurut analis Kampanye dan Advokasi MDGs PBB di Indonesia, Wilson TP Siahaan, angka itu menjadi sekitar 13,33 persen jumlah penduduk, atau ada 31,02 juta penduduk miskin, dari data BPS per Maret 2010.
Menurut Nila, target-target yang dianggap telah on track sekalipun masih harus dilihat secara lebih detail. Di bidang pendidikan, misalnya, angka partisipasi murni (APM) untuk pendidikan dasar telah naik menjadi 95,14 persen pada tahun 2008 dibandingkan angka partisipasi murni tahun 1993 yang mencapai 91,23 persen.
Tak jauh beda dari pandangan Nila, Wilson melihat pencapaian MDGs Indonesia bagaikan potret bercampur. Di satu sisi, beberapa sasaran, seperti pengurangan kemiskinan, telah on track. Namun, kinerja dalam pengentasan rakyat miskin tetap jadi masalah. Selama periode 1990-2010, kemiskinan hanya turun 1 persen.
Berdasarkan garis kemiskinan nasional, pada tahun 1990 kemiskinan 15,1 persen (27,2 juta orang miskin) dan pada tahun 2009 kemiskinan 14,15 persen (32,5 juta orang miskin), sementara tahun 2010 ada sekitar 31,7 juta orang miskin.
”Memang ada penurunan karena saat krisis tahun 1998 kemiskinan sempat mencapai 24 persen. Hanya saja, penurunan tidak cukup kencang dalam waktu 11 tahun,” ujarnya.
Masalah keadilan
MDGs yang dikemas dengan bungkus globalisasi, menurut Ketua Institute for Ecosoc Rights Sri Palupi, sebagai proyek internasional dan komitmen bersama guna mengurangi kemiskinan, MDGs seakan terlepas dari masalah ketidakadilan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Palupi mengungkapkan, hal paling mendasar untuk melihat MDGs ialah dengan perspektif hak asasi manusia. Menurut dia, kapabilitas orang miskin harus ditingkatkan melalui pendidikan, peningkatan kesehatan, dan penyediaan kesempatan bekerja. Dengan demikian akan muncul kemandirian menghidupi diri sendiri dan keluarganya.
Ia mencontohkan, sejak tahun 2000 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dinikmati 40 persen penduduk (golongan menengah) dan 20 persen (golongan terkaya). Sisanya yang 40 persen (penduduk termiskin) semakin tersingkir. Porsi pertumbuhan ekonomi yang dinikmati kelompok miskin menurun dari 20,92 persen pada tahun 2000 menjadi 19,2 persen tahun 2006.
Di samping itu, banyak kebijakan pemerintah dan target MDGs yang bertentangan. Di satu sisi, sasaran MDGs ialah menjamin kelestarian lingkungan dan pengentasan rakyat miskin. Namun, pemerintah justru melakukan perusakan sistematis terhadap lingkungan.
Pemerataan
Persoalan MDGs tidak bisa dipandang sebatas angka secara nasional, tetapi harus dilihat bagaimana pemerataan pencapaiannya di seluruh bagian Indonesia. Hal itu dikemukakan Divisi Monitoring Kebijakan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan.
Ade berpendapat, di Indonesia bagian timur yang lebih tertinggal dibandingkan dengan bagian Indonesia lain, masalahnya akan sangat kompleks ditambah dengan kondisi geografis yang menjadi tantangan tersendiri.
Perlu pemetaan daerah yang kaya dan minus sehingga kebijakan pemerintah bisa lebih tepat sasaran.
”Selain itu, bias kebijakan juga harus dihindari. Permasalahan sebenarnya ada di daerah, tetapi penyelesaiannya menggunakan asumsi kota,” ujarnya. Menurut dia, penyelesaian masalah tidak bisa instan dan top down. ”Warga perlu terlibat dalam pembuatan kebijakan sehingga kebijakan dapat menjawab masalah-masalah mereka,” kata Ade.
Secara umum, menurut Wilson, Indonesia jelas lebih baik daripada negara-negara di Afrika dan India karena populasinya lebih sedikit. Di samping itu, Indonesia mempunyai potensi besar dalam hal pendanaan, institusi, dan sumber daya manusia. Persoalannya ialah memastikan di tingkat bawah akan efektivitas program dan kekonkretannya. Menurut Wilson, MDGs merupakan alat untuk melihat akuntabilitas pemimpin kepada masyarakat dalam perbaikan kesejahteraan.
Sementara Nila menegaskan, arah pemerintah selama ini sudah benar karena pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki semangat pro-poor, pro-growth, pro-job. Rencana pemerintah untuk mencapai semua sasaran MDGs tergambar pula dalam rencana pembangunan berjangka yang telah disusun. (INE/ELN/WHY)

TEKNOLOGI INFORMASI & TELEKOMUNIKASI

Penggunaan TIK Rendah, Daya Saing Lemah

Kompas, Kamis, 16 September 2010 | 03:24 WIB
undefined
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Perkembangan teknologi digital membuat internet tidak lagi menjadi barang yang mahal. Selain bisa diakses dari mana saja, banyaknya penyedia jasa layanan internet mempermudah konsumen untuk mengakses internet.

Naiknya peringkat daya saing Indonesia dalam Indeks Kompetisi Global 2010-2011 yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia disambut positif pemerintah dan sebagian kalangan usaha. Peringkat GCI Indonesia yang tahun sebelumnya hanya pada peringkat ke-54 dari 133 negara naik menjadi urutan ke-44 dari 139 negara.
Meski nilai secara keseluruhan membaik, Indonesia hanya berada pada urutan ke-103 dalam subkategori penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang bisa mendorong efisiensi dan meningkatkan daya saing ekonomi. Dalam subkategori itu, hal yang dinilai adalah jumlah pengguna internet yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-107, pelanggan internet (99), dan lebar pita jaringan internet (102).
Dibandingkan dengan delapan negara ASEAN yang disurvei, selain Myanmar dan Laos, peringkat penggunaan TIK Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Kamboja (129). Sedangkan dibandingkan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) yang ekonominya tumbuh pesat, posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan India (118). Walau jumlah penggunanya rendah, India merupakan eksportir produk peranti lunak dan ahli-ahli TIK dalam jumlah besar.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto di Jakarta, Rabu (15/9), mengatakan, rendahnya peringkat Indonesia disebabkan rendahnya ketersediaan infrastruktur TIK.
Hingga kini, masih ada sekitar 7.000 desa dari sekitar 72.000 desa yang belum terhubung jaringan telepon berbasis suara. Desa-desa itu umumnya tersebar di Sulawesi, Maluku, dan Papua yang memiliki hambatan geografis. Jaringan serat optik Indonesia juga belum menjangkau pulau-pulau itu sehingga akses telepon masih dilakukan melalui satelit yang mahal biayanya.
Untuk telepon berbasis internet, ditargetkan akan menjangkau 5.000 desa di ibu kota kecamatan akhir tahun ini. Pemerintah saat ini sedang menyelesaikan pembangunan jaringan serat optik antara Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan serat optik yang menghubungkan Sulawesi-Maluku-Papua belum terbangun.
”Daerah yang semua desanya sudah terakses telepon berbasis suara dan internet adalah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi),” kata Gatot.
Pengguna internet di Indonesia diperkirakan baru mencapai 50 juta orang atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk. Dari 180-an perusahaan penyedia jasa internet, sekitar 150 perusahaan di antaranya beroperasi di Jabodetabek. Sisanya berada di kota-kota besar saja, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Sekretaris Jenderal Masyarakat Telematika Indonesia Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengingatkan pemerintah untuk membangun infrastruktur TIK secara proporsional, berdasarkan kebutuhan daerah dan ketersediaan sarana yang ada. Namun, kesenjangan infrastruktur antardaerah, baik dalam kuantitas maupun kualitas, juga harus ditekan sehingga akses masyarakat terhadap TIK merata.
Guru Besar Teknik Komputer Universitas Indonesia Kalamullah Ramli mengatakan, jika persoalan infrastruktur informasi dan telekomunikasi nantinya selesai dibangun, pemerintah perlu memberdayakan masyarakat agar bisa menggunakan internet secara positif dan aktif. Internet selama ini cenderung digunakan untuk hal-hal yang kurang produktif, seperti akses jejaring sosial atau situs pornografi.
”Penggunaan internet seharusnya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Penggunaan internet juga dinilai Kalamullah belum merata. Internet masih dianggap sebagai barang mahal. Hanya kelompok menengah atas yang bisa berlangganan internet. Sedangkan kelompok menengah bawah mengakses internet melalui warung-warung internet yang lokasinya terbatas.
Menurut Wigrantoro, untuk meningkatkan penggunaan TIK demi mendorong daya saing ekonomi Indonesia, pemerintah perlu melakukan rekayasa sosial untuk mengarahkan pemanfaatan internet secara intensif dan ekstensif.
Penggunaan TIK secara intensif perlu dilakukan agar pemanfaatan teknologi itu dapat meningkatkan efisiensi dan mendorong daya saing ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Sedangkan upaya mendorong penggunaan TIK secara ekstensif dapat dilakukan dengan penggunaan TIK di berbagai sektor pembangunan.
”Konsistensi kebijakan penggunaan TIK juga harus dijaga,” ungkap Wigrantoro.(M Zaid Wahyudi)

TUJUAN PEMBANGUNAN MILENIUM

Perlu Pembiayaan Inovatif untuk MDGs

Kompas, Kamis, 16 September 2010 | 03:56 WIB

NEW YORK, RABU – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon mendukung wacana perlunya pembiayaan lebih inovatif guna membiayai pembangunan kesehatan global dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
Ban Ki-moon memperkirakan, butuh lebih dari 100 miliar dollar AS dalam waktu lima tahun ke depan untuk mencapai delapan sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) pada 2015. ”Perlu mobilisasi dana besar untuk itu. Negara-negara anggota telah mendiskusikan berbagai kemungkinan pendanaan yang inovatif,” ujarnya terkait pertemuan tingkat tinggi di PBB guna membahas Tujuan Pembangunan Milenium, pekan depan.
Pajak atau bea tambahan untuk item seperti transaksi perjalanan lewat udara dan transaksi finansial dapat dieksplorasi oleh negara-negara anggota.
Dia mencontohkan, sejumlah negara menerapkan iuran atau biaya atas pembelian tiket pesawat. Saat menjabat sebagai menteri luar negeri di Korea Selatan, Ban mempromosikan ide itu dan dikuatkan dengan peraturan. Dana yang terkumpul digunakan untuk pembiayaan sasaran-sasaran pembangunan. Negara lain, seperti Perancis, Norwegia, dan Brasil, menerapkan hal serupa.
Kematian ibu dan anak
Ban mengatakan, mengurangi angka kematian anak di bawah usia lima tahun dan menurunkan angka kematian ibu merupakan tujuan yang paling lamban kemajuannya sejak dicanangkan tahun 2000.
Dalam pertemuan itu, masalah mengurangi kematian ibu dan anak tersebut akan diprioritaskan untuk bisa dicapai lima tahun lagi.
”Kita telah bekerja keras mengurangi kemiskinan ekstrem, menyediakan pendidikan, dan mengadakan infrastruktur sanitasi dan kesehatan. Sekarang, kita harus berbuat lebih untuk kematian ibu dan anak,” ujarnya.
Di kalangan lembaga pemberi bantuan, ada keraguan MDGs akan tercapai.
Beberapa tujuan sangat berat untuk dicapai, seperti menghentikan penyebaran HIV/AIDS, mengurangi dua pertiga jumlah kematian anak di bawah usia lima tahun, mengentaskan rakyat dari kemiskinan (mengurangi separuh jumlah orang berpendapatan kurang dari satu dollar AS per hari), serta kelaparan.
”Ada skeptisisme, tetapi MDGs adalah janji, cetak biru pemimpin-pemimpin dunia untuk mengangkat miliaran orang dari kemiskinan. Tujuan-tujuan itu harus kita capai,” ujar Ban. ”Dengan komitmen para pemimpin, dikombinasi dengan sumber daya dan bantuan internasional, saya kira kita bisa mencapainya,” katanya. (AFP/INE)

BURSA BERJANGKA

Logam Mulia Sedang Naik Daun

Kompas, Senin, 20 September 2010 | 03:15 WIB

Di pasar berjangka New York, harga kontrak berjangka emas diperkirakan akan terus meningkat walaupun telah mencapai rekor tertinggi pada Jumat lalu.
Kenaikan harga emas itu bersamaan dengan melejitnya kurs yen Jepang yang mencapai rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
Kenaikan harga emas tersebut disebut-sebut disebabkan oleh kekhawatiran pasar soal sistem perbankan di Eropa. Pasar juga khawatir dengan sistem mata uang global terkait perseteruan antara Amerika Serikat dan China soal nilai yuan yang dianggap terlalu lemah.
Pasar juga khawatir karena ada pembicaraan soal perlunya kebijakan moneter dikendurkan untuk mendorong pemulihan ekonomi AS yang masih rentan.
Semua ini dianggap sebagai indikasi tentang perekonomian global yang tidak meyakinkan. Namun, di sisi lain, tidak tertutup kemungkinan hal ini juga akibat ulah para spekulan yang memang menjadikan isu sebagai penggerak harga.
Harga kontrak berjangka emas yang paling aktif ditransaksikan adalah kontrak untuk penyerahan Desember. Harga kontrak untuk kategori ini naik 3,70 dollar AS atau 0,3 persen menjadi 1.277,5 per troy ounce di bursa berjangka New York.
Kekhawatiran tentang utang sejumlah negara di Eropa juga merupakan salah satu pendorong kenaikan harga emas. Transaksi logam mulia ini tidak selalu langsung terkait dengan roda ekonomi, seperti komoditas industri lain seperti tembaga dan minyak.
Emas lebih sering disebut sebagai tempat pelarian yang aman ketika investor khawatir tentang perekonomian atau pasar modal. Saat pasar bergejolak, saat orang-orang takut akan keamanan dana-dana investasinya, emas adalah pilihan yang dianggap aman (safe haven).
Kenaikan harga emas juga didukung dengan terus adanya pembicaraan soal stimulus ekonomi di AS. Beberapa orang berpendapat, lemahnya dollar AS dan potensi tingginya inflasi dalam jangka panjang akan dapat membuat emas sebagai sarana lindung nilai.
”Harga emas sedang meningkat karena pasar berpikir bahwa Bank Sentral akan mencetak uang sebelum akhir tahun ini untuk mempertahankan aktivitas perekonomian,” kata analis Neil MacKinnon dari VTB Capital.
”Para investor beranggapan, ekonomi AS benar-benar kembali memasuki jalur double-dip (resesi yang diikuti pemulihan, kemudian mengalami resesi lagi), karena itu mengambil sikap,” katanya.
Pelemahan kurs dollar AS, terutama terhadap yen Jepang, juga akan membuat perburuan emas terus berlangsung karena harga logam mulia yang berdenominasi dollar AS semakin murah.
”Ini seperti pemeo, ketika bisnis sepi, tetaplah membeli emas,” ujar Michael Gross, pialang dan analis dari OptionsSeller.
Faktor pendukung kenaikan emas lainnya adalah berita bahwa AngloGold Ashanti Ltd, salah satu produsen logam berharga, merencanakan akan mencari dana sebesar 1,37 miliar dollar AS untuk modal berjualan kontrak berjangka emas. (AP/AFP/joe)

“Penyakit Belanda”?


Kompas, Senin, 13 September 2010 | 04:41 WIB

Muhammad Chatib Basri

Tingginya pertumbuhan ekspor komoditas kita di satu sisi dan terpuruknya industri manufaktur di sisi lain mengingatkan saya akan obrolan rutin dengan Max Corden sepuluh tahun yang lalu di Cellar Café University House, Australian National University, di Canberra.

Waktu itu saya mahasiswa pemula, sedangkan Corden adalah nama besar dalam teori ekonomi. Corden—bersama Peter Neary—adalah ekonom yang membangun model standar untuk analisis Penyakit Belanda atau Dutch Disease.

Saya ingat: dengan sabar tetapi bersemangat ia menjelaskan soal Dutch Disease dan relevansinya terhadap Indonesia. Argumen Corden sederhana: kenaikan harga komoditas atau resources boom dapat mengurangi daya saing sektor industri sehingga terjadilah deindustrialisasi. Prosesnya: kenaikan harga komoditas primer (seperti tambang dan komoditas) akan mendorong produksi di sektor tersebut. Kenaikan produksi akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak. Akibatnya, tenaga kerja harus diambil dari sektor lain, seperti manufaktur. Implikasinya: tingkat upah pekerja di sektor manufaktur meningkat—karena sebagian pekerjanya berpindah ke sektor tambang dan komoditas.

Akibatnya, produksi manufaktur—terutama padat karya—akan menurun. Itu yang disebut sebagai resource movement effect. Selain itu, kenaikan harga komoditas juga akan meningkatkan pendapatan orang sehingga pengeluaran untuk barang-barang nontradable (barang yang hanya bisa dikonsumsi di tempat ia dihasilkan) juga meningkat. Peningkatan harga barang nontradable ini akan mendorong apresiasi riil dari nilai tukar. Akibatnya, industri manufaktur menjadi tak kompetitif. Ini yang disebut spending effect.

Pendeknya, Dutch Disease ditandai oleh: (i) apresiasi nilai tukar riil; (ii) melemahnya ekspor manufaktur; (iii) naiknya tingkat upah. Karakteristik itu sepintas cocok dengan apa yang kita alami saat ini, mirip seperti yang disampaikan Corden kepada saya lebih dari sepuluh tahun lalu.

Asal istilah ”Penyakit Belanda” atau Dutch Disease adalah krisis ekonomi di Belanda pada tahun 1960-an menyusul ditemukannya ladang gas alam di Laut Utara pada tahun 1959. Istilah itu pertama kali diperkenalkan oleh majalah The Economist tahun 1977 untuk menggambarkan kemerosotan sektor manufaktur di Belanda.

Dalam ilmu ekonomi, Dutch Disease adalah suatu konsep yang menjelaskan kaitan nyata antara peningkatan dalam eksploitasi sumber-sumber daya alam dan penurunan dalam sektor manufaktur. Teorinya, peningkatan pendapatan dari sumber daya alam (atau masuknya bantuan asing) akan mendeindustrialisasi ekonomi suatu bangsa, yaitu dengan meningkatkan nilai tukar uang sehingga membuat sektor manufaktur kurang kompetitif dan layanan publik terjerat dengan kepentingan bisnis: kriminalitas perusahaan milik negara.

Terlalu pagi

Apakah Indonesia terkena Dutch Disease? Mungkin terlalu pagi untuk menyimpulkan. Namun, laporan IMF tentang Indonesia akhir Agustus lalu mengatakan: tidak ada bukti Indonesia mengidap Dutch Disease. Alasannya: industri manufaktur yang bermasalah hanyalah industri padat karya, sedangkan yang padat modal masih relatif baik kinerjanya. Selain itu, kenaikan upah di sektor manufaktur juga baru terjadi akhir-akhir ini dan bukan sejak harga komoditas meningkat.

Saya tak sepenuhnya sepakat dengan argumen ini. Kita bisa melihat bahwa apresiasi riil memang terjadi. Kita juga melihat industri padat karya terus memburuk kinerjanya. Kita juga melihat bahwa pertumbuhan tenaga kerja dan tingkat upah di sektor pertambangan meningkat tajam sejak tahun 2003. Studi Papanek, Basri, dan Schydlowsky (2010) juga menunjukkan bahwa upah industri (dalam dollar AS) naik lebih dari dua kali lipat dalam periode 1998-2009.

Apresiasi riil telah mengakibatkan aktivitas ekonomi bergeser dari sektor tradable menuju nontradable. Lihat saja dalam komposisi PDB, sumber pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2003 didominasi oleh sektor nontradable. Investasi dan sumber daya bergeser dari industri pengolahan yang padat karya menuju ke sektor jasa atau perdagangan atau nontradable serta sektor tambang dan komoditas. Semua karakteristik ini mirip dengan gejala Dutch Disease.

Mengapa industri padat karya terpuruk dan orang cenderung menjadi pedagang atau bergerak di sektor primer? Penjelasannya sederhana: peran Indonesia dalam industri padat karya di pasar internasional amat kecil. Kita tak bisa mendikte harga (price taker). Karena itu, jika biaya produksi meningkat—misalnya karena menguatnya nilai tukar rupiah, meningkatnya upah (dalam dollar), mahalnya biaya logistik, peraturan ketenagakerjaan, ekonomi biaya tinggi—produsen tidak bisa menaikkan harga atau membebankan biaya itu kepada konsumen.

Mengapa? Jika menaikkan harga, produk Indonesia tak lagi kompetitif. Pasar kita akan diambil oleh China, Vietnam, atau Banglades. Pengusaha terjepit: di satu sisi ia tak dapat menaikkan harga, di sisi lain biaya produksi meningkat. Apa yang bisa dilakukan? Menurunkan margin keuntungan. Siapa yang mau berusaha jika keuntungannya terus tergerus? Maka, tak ada insentif melakukan investasi di sektor industri padat karya. Akibatnya, industri padat karya terus terpuruk. Terjadilah deindustrialisasi.

Sebaliknya, di sektor komoditas primer, seperti batu bara atau kelapa sawit, peran Indonesia cukup penting di pasar internasional. Kita mampu memengaruhi harga internasional. Implikasinya: kenaikan biaya produksi dapat dibebankan kepada konsumen di luar negeri tanpa perlu khawatir kehilangan pasar. Karena itu, margin keuntungan tetap dapat dipertahankan. Hal yang sama terjadi pada sektor nontradable. Di sini tak ada kompetisi dari impor. Pengusaha dapat membebankan kenaikan biaya produksinya kepada konsumen sehingga margin keuntungannya terjaga. Karena itu, dalam situasi seperti ini, pengusaha lebih memilih untuk menjadi pedagang dan bukan industrialis. Lebih baik pindah ke sektor nontradable atau sektor primer. Terjangkit Dutch Disease- kah kita?

Menjaga daya saing

Lepas dari apakah Indonesia menderita Dutch Disease atau tidak, Basri dan Rahardja (2010) menunjukkan bahwa apresiasi riil nilai tukar rupiah yang terus terjadi ini cenderung mendorong ekspor kita semakin terkonsentrasi pada produk primer, sedangkan industri manufaktur akan semakin terpuruk.

Jika industri padat karya tak dapat menyerap tenaga kerja, pekerja akan terus tertinggal di sektor pertanian, akibatnya produktivitas pertanian akan semakin menurun. Produktivitas yang menurun akan mendorong tingkat upah riil menjadi lebih rendah.

Implikasinya: daya beli akan memburuk. Ini tak bisa dibiarkan. Tak ada pilihan lain kecuali membuat industri padat karya bergerak. Untuk menghindari Dutch Disease, dibutuhkan dua hal: membuat nilai tukar menjadi kompetitif dan kedua memperbaiki pasar tenaga kerja. Tentu kita tidak bisa membuat nilai tukar lebih kompetitif dengan mendepresiasi nilai tukar rupiah. Yang bisa dilakukan adalah menjaga agar inflasi tidak lebih tinggi dibandingkan dengan negara pesaing kita. Di sini saya melihat bahwa kehati-hatian Bank Indonesia dalam menjaga inflasi menjadi amat penting.

Kemampuan pemerintah menjaga daya saing juga amat penting. Implikasinya: revisi UU Ketenagakerjaan, pembangunan jalan dan pelabuhan, serta pembebasan lahan menjadi keharusan dan benar benar diimplementasikan. Beranikah dan sanggupkah pemerintah melakukan ini?

Saya jadi ingat risalah ekonom Stephen Magee yang mengatakan: yang paling buruk dan membingungkan adalah kebijakan yang efisien secara politik, tetapi tak efisien secara ekonomi. Ungkapan Magee seperti menyindir kita.

Muhammad Chatib Basri Pendiri CReco Research Institute

KIAT

Menghindari Efek Resesi Ekonomi AS

Kompas, Senin, 13 September 2010 | 03:11 WIB

Tidak meledak seperti bom yang langsung melumatkan segala hal yang ada di sekitarnya, demikianlah resesi ekonomi tidak terlihat secara kasatmata. Karena tidak meledak, perhatian awam soal dampak resesi tidak terlalu besar.

Akan tetapi, resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) kali ini tidak bisa diremehkan. Utang negara AS sudah melebihi 13 triliun dollar AS, melampaui nilai produk domestik bruto (PDB) AS.

Kehidupan ekonomi AS juga berjalan lebih karena dukungan modal investasi asing. Akan tetapi, jika ditilik lebih jauh, angka pengangguran di AS sudah mencapai 9,6 persen. Ini berarti sekitar 30 juta warga AS berstatus pengangguran.

Ekonomi AS memang sedang memudar pamornya. Ini ditandai dengan bank-bank yang terus bertumbangan, lebih dari 100 bank per tahun sejak 2008.

Dengan kondisi seperti ini, wajar bila diingatkan bahwa memegang aset-aset berdenominasi dollar AS relatif tidaklah aman. Setidaknya, kurs dollar AS terus merosot terhadap euro sejak euro diluncurkan tahun 1999.

Demikian pula surat-surat berharga terbitan lembaga keuangan AS, bisa dikatakan tidak aman. Sudah cukup banyak korban di seluruh dunia yang mendadak bangkrut karena memegang surat-surat berharga terbitan AS.

Ini sudah terjadi di Hongkong, Singapura, dan juga warga Indonesia, setidaknya akibat bangkrutnya Lehman Brothers tahun 2008 lalu.

Ada saja hal yang masih menguntungkan dengan memegang produk-produk investasi terbitan AS, tetapi itu hanyalah bisa didapatkan oleh mereka yang menguasai liku-liku pasar yang sarat spekulasi.

Bagi warga kaya dengan investasi jangka panjang, termasuk warga Indonesia, yang sudah terkenal sebagai salah satu pelanggan Merrill Lynch, kemerosotan ekonomi AS harus diwaspadai.

Istilahnya, lebih bagus menanamkan dana di negara-negara dengan perekonomian lebih solid, walau dengan keuntungan relatif kecil, asal jangan hangus mendadak seperti kertas sampah yang tidak berharga.

Sudah banyak bukti orang yang stres, mendadak bunuh diri karena kebangkrutan, akibat resesi ekonomi AS. Tulisan ini tentu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan hanya sebagai peringatan yang relatif layak dipertimbangkan, terutama bagi mereka yang berduit banyak.(MON)

Investasi & Keuangan

Belajar dari Orang Kaya

Elvyn G MasassyaPraktisi Keuangan

Arti kaya bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang mendefinisikan sebagai banyaknya aset, tidak peduli apakah utang sejibun. Ada yang lebih realistis, mengartikan kaya sebagai banyaknya nilai aset bersih, yakni harta dikurangi utang. Bagi yang lain, kaya adalah kondisi di mana aset dapat memberi manfaat kepada pemilik, bukan dilihat dari besar kecilnya aset.

Lalu, kenapa ada yang menjadi sangat kaya, ada pula yang merasa asetnya tidak pernah bertambah? Bagaimana menumbuhkembangkan kekayaan? Benarkah karena nasib baik atau karena kerja keras? Atau apa?

Bagi yang skeptis mungkin akan mengatakan banyak orang menjadi kaya karena korupsi atau karena diberi kesempatan berbisnis melalui jalar nepotisme.

Padahal, cukup banyak orang menjadi kaya karena kepiawaian melakukan investasi dan atau berbisnis dengan cara baik dan benar.

Namun, lepas dari itu, tidak ada salahnya kita cermati bagaimana orang-orang tersebut menjadi kaya. Apakah ada hal berbeda yang mereka lakukan dibandingkan dengan orang kebanyakan? Paling tidak, layak dicermati sikap, tindakan, dan atau perilaku mereka dari sisi positif sebagai referensi. Lantas apa saja perilaku tersebut?

Keinginan kuat

Pertama, cara berpikir. Orang kaya pada dasarnya memiliki pemikiran mencari uang dan harta adalah suatu kemestian. Tujuannya bisa berbeda-beda bagi setiap orang.

Secara prinsip mereka memiliki keinginan kuat mendapatkan uang dan kekayaan. Jadi, mereka tidak pernah beranggapan uang adalah hal jelek atau kurang baik. Mencari uang sebanyak-banyaknya merupakan hal lazim. Niat dan keinginan mendapatkan uang dan melipatgandakannya sangatlah kuat.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki niat kuat? Katakanlah Anda bekerja sebagai karyawan dan mendapatkan gaji, apakah Anda memiliki niat agar gaji Anda bisa meningkat? Atau Anda nrimo saja menunggu penyesuaian gaji sehubungan dengan laju inflasi?

Kedua, memahami makna kekayaan dan memiliki target. Orang kaya umumnya mengetahui dengan pasti jumlah kekayaan dan peruntukannya, termasuk ketika menggunakan kekayaan tersebut.

Mereka memiliki banyak uang dan kemudian sebagian disumbangkan, misalnya ke panti asuhan. Tujuan menyumbang macam-macam, termasuk, misalnya, agar mereka merasa lebih bahagia. Dengan kata lain, kekayaan yang dicari memiliki kejelasan makna.

Dus, kalau Anda ingin menjadi lebih kaya ada baiknya juga memahami dengan pasti apa tujuan kekayaan yang hendak Anda raih. Ini seperti ketika Anda mengendarai kendaraan. Mesti jelas tujuannya ke mana, Anda juga memilih jalan yang Anda rasa paling sesuai untuk mencapainya, serta memahami konsekuensinya. Misalnya, terjebak macet atau membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tujuan jika jalan yang Anda pilih berputar-putar.

Simpan rahasia

Ketiga, memahami kapan kekayaan akan dicapai. Kita kerap mendengar kisah para konglomerat yang awalnya hidup sangat sederhana. Mereka bahkan rela tidak membeli pakaian bagus dan tidak makan enak dalam kurun waktu cukup panjang. Hasil keuntungan kegiatan bisnis dia kumpulkan untuk kemudian menjadi tambahan modal usaha.

Dengan kata lain, orang-orang yang kaya berdasarkan hasil bisnis tidak mencapainya dalam jangka pendek, tetapi mereka yakin dengan kerja keras dan disiplin kekayaan itu akan dicapai. Bisa dalam kurun waktu 10 tahun atau bahkan lebih.

Dengan latar belakang ini bisa dipahami, menjadi kaya sebenarnya bukan upaya yang dicapai dalam waktu singkat. Jika Anda berinvestasi, hasil investasi yang besar hanya bisa dicapai dalam waktu panjang, tidak serakah, sabar, dan konsisten dalam melakukan investasi.

Analogi untuk menggambarkan konsep ini sama seperti ketika Anda mengemudikan kendaraan. Harus jelas tujuannya, jam berapa Anda harapkan tiba di tujuan, dan jalan mana yang dipilih. Ada sistematika di sini.

Keempat, menyimpan rahasia untuk diri sendiri. Coba tanyakan kepada orang-orang kaya, apa resep hingga mereka menjadi kaya. Pasti sebagian besar akan menjawab, kerja keras. Itu memang benar.

Namun, kerja keras seperti apa yang dimaksud? Belum tentu sama pengertian kerja keras versi orang kaya dengan kalangan kebanyakan. Artinya apa? Artinya, orang-orang kaya memiliki strategi rahasia yang belum tentu dibagikan kepada orang lain.

Makna tulisan ini, jika Anda sudah memiliki keyakinan mengenai langkah yang akan Anda tempuh, cukup simpan untuk diri sendiri. Tidak perlu terlalu banyak bertanya atau bercerita kepada orang lain mengenai strategi di benak Anda. Sebab, semakin banyak pendapat yang Anda terima, akan semakin goyahlah pendirian Anda. Kecuali Anda tergolong orang yang keukeuh dalam menjalani pendirian.

Selanjutnya, juga tidak perlu menyombongkan diri jika langkah yang Anda lakukan, misalnya berinvestasi di pasar modal, menuai keuntungan besar. Biarkan keuntungan menghampiri diri Anda, tetapi tetap bersikap rendah hati. Tidak perlu orang tahu Anda menjadi lebih kaya.

Selain hal-hal di atas, tentu saja masih banyak sikap, perilaku dan tindakan positif yang bisa dipelajari dari orang-orang kaya sebagai referensi dan pembelajaran bagaimana cara menjadi kaya. Ini disebut sebagai perilaku keuangan orang kaya. Hal-hal tersebut akan diulas dalam tulisan-tulisan mendatang.

Sumber dari http://female.kompas.com, Minggu, 22/3/2009 | 02:26 WIB

4 Rahasia Menjadi Orang Kaya

Selasa, 31/8/2010 | 16:49 WIB

KOMPAS.com – Keterampilan mengelola uang akan menentukan apakah seseorang sukses secara finansial dan menjadi kaya karenanya atau tidak. Meski begitu, keterampilan ini sangat bisa dipelajari dan membutuhkan konsistensi.

Valentino Dinsi, SE, MM, MBA, pendiri MuslimCOACH menyebutkan, hanya satu persen orang di dunia yang mengontrol 50 persen uang yang beredar, dan lima persen orang di dunia yang menguasai 90 persen uang beredar. Ini sama artinya dengan semakin banyak orang yang memperebutkan sedikit uang.

“Jika pun uang beredar di dunia ini dibagi rata setiap orang, 25 milyar per orang misalnya. Dalam lima tahun komposisinya akan kembali seperti awal tadi. Karena begitu menerima uang banyak, kecenderungannya orang akan konsumtif,” jelas Valentino, dalam dalam seminar bertema “Entrepreneur in You” yang diadakan oleh Department Group of Magazine, Kompas Gramedia beberapa waktu lalu.

Lantas bagaimana sebagian kecil orang di dunia mengelola uangnya dan sukses finansial serta menjadi kaya karenanya?

1. Jangan bergantung pada satu sumber penghasilan
Menjadi kaya sama dengan bekerja lebih giat dan menarik uang lebih banyak. Bergantung pada satu sumber penghasilan takkan cukup menambah pendapatan. Jadi, caranya menjadi kaya adalah dengan mencari sumber pendapatan kedua atau ketiga. Anda bisa mencari tambahan penghasilan dengan keterampilan atau hobi yang dimiliki dan bisa dikerjakan dari rumah. Seperti menjadi penulis buku freelance dan mengerjakannya sepulang kantor. Atau keahlian lain yang berbeda dari pekerjaan Anda saat ini.

2. Akumulasi aset

Semakin banyak aset Anda, semakin besar nilai kekayaan Anda. Mulailah berinvestasi. Membeli tanah, bisnis franchise yang memudahkan dan laris di pasaran, atau bentuk investasi lain. Tentu saja Anda perlu menambah pengetahuan seputar investasi termasuk risikonya. Dengan mempelajari jenis dan risiko investasi, Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus mengakumulasi aset Anda.

3. Terapkan teori “compounding”
Seperti dikutip http://www.dowtheoryletters.com dalam buku Irwin Shaw bertajuk Rich Man, Poor Man disebutkan, compounding menjadi aturan pertama untuk menghasilkan uang dan menjadi jalan menuju kaya. Jalan ini mengandung makna, Anda harus gigih dalam berupaya menghasilkan uang. Anda juga memerlukan kecerdasan untuk tetap menjalani pekerjaan (yang menghasilkan uang tersebut). Artinya Anda perlu memahami betul apa yang Anda lakukan dan mengapa Anda melakukan pekerjaan tersebut. Selain itu compounding juga bermakna Anda perlu memiliki pengetahuan matematika untuk dapat memperhitungkan penghasilan yang Anda miliki dan mengelolanya dengan tepat. Selain itu, sukses finansial membutuhkan waktu, dan bukan sukses instan yang hanya bertahan sementara.

4. Menjalani empat profesi ini
Valentino menyebutkan empat profesi orang terkaya di dunia adalah:
* Entrepreneur
* Pialang saham
* CEO/ Direktur Utama sebuah perusahaan.
* Staf penjualan door to door yang dibayar berdasarkan komisi hasil penjualan.

Jika disimak, daftar 10 orang terkaya di Indonesia menurut majalah Forbes (versi September 2008) adalah pengusaha. Sebut saja lima besarnya seperti Aburizal Bakrie dan keluarga (5,4 miliar dollar AS),  Sukanto Tanoto dan keluarga mengelola Garuda Mas (4,7 miliar dollar AS),  R. Budi Hartono (3,14 miliar dollar AS), Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA (3,08 miliar dollar AS),  Eka Tjipta Widjaja dan keluarga pemilik Sinar Mas Group (2,8 miliar dollar AS), dan sederet penguasaha kaya lainnya.

WAF
Editor: Dini

Menjadi 0tentik
Kompas Sabtu, 26 Juni 2010 | 03:33 WIB

Oleh Gede Prama

Kekayaan ekonomi mendikte pengetahuan dan kekuasaan. Mungkin itu dinamika zaman ini. Beberapa puluh tahun lalu, ketika kedigdayaan ekonominya sedang di puncak, Amerika Serikat memproduksi sekolah bisnis.

Harvard saat itu semacam ikon yang ditiru dunia. Di akhir 1980-an, keajaiban ekonomi Jepang membuat dunia kagum, kemudian diikuti oleh studi yang membuahkan konsep budaya korporasi. Lagi-lagi dunia ikut nurut. Di tahun 2010 ini, China jadi kekuatan ekonomi yang tak bisa dibendung. Sudah mulai ada peneliti yang mengait-ngaitkan kemajuan ekonomi China dengan budaya Konfusian.

Kekuasaan di negeri ini serupa. Jangankan posisi yang jauh dari pantauan publik, menteri dengan integritas tinggi pun tumbang digusur kekuasaan beraroma uang. Melalui usul dana aspirasi, lagi-lagi atas nama uang, sebagian anggota DPR yang seyogianya menjaga konstitusi malah mencederai konstitusi.

Mungkin itu sebabnya John Law dkk (1991) memberi judul karyanya A Sociology of Monster. Pengetahuan—apa lagi kekuasaan—mulai diragukan bisa menjadi lahan subur pertumbuhan kebenaran, sebaliknya malah larut dibawa arus uang, kemudian ikut menjadi monster pemangsa kebenaran. Mungkinkah muncul manusia otentik di masa depan?

Muncul lenyap

Sebagai langkah awal buka tirai kejernihan, sesungguhnya tak hanya peran pengetahuan dan kekuasaan yang berputar dari waktu ke waktu, semua berputar. Ia sesederhana matahari: pagi muncul dengan hawa hangat, siang panas menyakitkan, sore lenyap menyisakan kegelapan. Itu sebabnya, dalam meditasi diajarkan melihat ketakkekalan dengan jarak yang sama. Perhatikan manusia yang dijumpai dalam keseharian. Di suatu waktu ia memuji, di lain waktu ia memaki, di kesempatan lain ia lupa.

Mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos adalah contoh indah. Puluhan tahun dikagumi banyak orang lengkap dengan kekuasaannya, di suatu waktu ia ditumbangkan. Ujung kekuasaannya tak menyisakan apa-apa, bahkan mayatnya tak diperbolehkan masuk Filipina. Sekian puluh tahun berlalu, salah satu putra Marcos memutar balik sejarah dengan memperoleh dukungan dalam pemilu. Bukan tak mungkin keluarga itu akan dihormati lagi.

Nelson Mandela di Afrika Selatan adalah contoh lain. Selama 27 tahun merana di penjara. Ketika rezim kulit putih jatuh, ia muncul jadi pahlawan. Tatkala cerai dengan istrinya, ia dipandang sebelah mata. Inilah yang disebut ketidakkekalan. Tak saja manusia di luar sana yang tak kekal, tubuh ini hari ini menyenangkan karena makan enak, besok menyakitkan karena terkena penyakit, hari lain terlupakan karena sibuk.

Memaksa bahwa hidup harus terus penuh kesenangan, itulah penderitaan. Menjaga jarak yang sama pada setiap kejadian, itulah kedamaian dan kebebasan. Dari sana mungkin muncul kualitas otentik yang tak bisa diperkosa monster uang dan kekuasaan.

Senyum saja

Clouds in the sky of enlightenment, demikian pesan guru tercerahkan (baca: otentik) kepada muridnya dalam mengarungi kehidupan. Semua pengalaman hidup serupa awan di langit pencerahan. Kesenangan serupa awan putih, kesedihan mirip awan hitam. Awan hitam tak bikin langit hitam, awan putih tak bikin langit putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru luas tak terbatas.

Bagi batin tercerahkan, kebahagiaan yang diperebutkan tak menambahkan apa-apa, kesedihan yang dienyahkan tak mengurangkan apa-apa. Terutama karena terlihat terang benderang, semua berputar sekaligus indah apa adanya. Perhatikan ikan yang hidup di air, burung yang terbang di udara. Ikan tak menyebut burung bodoh karena tak mengenal kehidupan dalam air, burung tak menyebut ikan kurang wawasan karena tak terbang ke mana-mana. Keduanya bahagia apa adanya. Mendengar penjelasan seperti ini, ada yang mengungkapkan keraguan: kalau begitu, manusia tercerahkan pasif dan tak melakukan apa-apa?

Kendati tak tersentuh oleh kejadian, sifat alami makhluk tercerahkan penuh kasih sayang. Seperti air yang tak bisa dipisahkan dengan basah, api yang tak bisa dipisahkan dengan panas, pencerahan tak bisa dipisahkan dengan kasih sayang. Karena itu, makhluk tercerahkan kesehariannya banyak senyum. Tatkala gembira ia senyum, saat berduka juga senyum. Mungkin kedengaran aneh, tetapi begitulah kese- harian makhluk tercerahkan, terutama karena yang mengagumkan muncul lenyap, yang menjengkelkan muncul lenyap. Seperti matahari, apa pun komentar orang, besok pagi tetap terbit kembali melayani kehidupan.

Seorang anak muda protes keras, kesannya cuek dan membosankan? Keheningan yang tak dipeluk kasih sayang tak pernah diajarkan sebagai jalan pencerahan. Setelah membadankan dalam-dalam hakikat semua fenomena yang muncul lenyap, guru-guru tercerahkan kemudian mengisi hidupnya dengan pelayanan. Bukan pelayanan yang memaksa harus masuk surga, bukan juga pelayanan yang trauma akan neraka. Sebagaimana samudra yang selalu bawa kegembiraan gelombang, pencerahan selalu bawa kegembiraan kasih sayang bersamanya. Ada kebahagiaan menawan di balik penerapan kasih sayang.

Seorang kakek ditanya cucunya, ”Kenapa orang tercerahkan juga dimaki dan disakiti?” Dengan lembut kakeknya bergumam, semua memiliki sifat alami masing-masing. Seperti kambing, dikasih rumput dimakan, dikasih daging akan menghindar, tanpa perlu mencaci bahwa pemakan daging dosa dan masuk neraka. Serupa serigala, dikasih daging dimakan, diberi rumput menghindar, tanpa mencaci bahwa orang vegetarian bodoh dan tolol. Sejalan dengan ini, panggilan alami sejumlah manusia memang memaki dan menyakiti. Dalam pandangan guru tercerahkan, makian adalah bel kesadaran untuk selalu peduli dan rendah hati. Ketika disakiti, sesungguhnya manusia sedang mengalami pemurnian.

Bila begini cara mengalami hidup, uang dan kuasa berhenti jadi monster menakutkan. Sekaligus buka kemungkinan bagi kelahiran manusia otentik.

Gede Prama Penulis Buku Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into The Ultimate Healing

Economy – Industri

6 Tips Menjadi Pengusaha Bermodal Dengkul

Jakarta- Tuntutan zaman yang semakin menggila saat ini mau tak mau bikin orang untuk tetap membuat dapur mereka tetap ngebul, alias bisa menghidupi keluarga mereka.Tak ayal, menjadi pebisnis walaupun kecil-kecilan pun pasti akan dilakoni, kendati memang sudah mempunyai pekerjaan tetap. Namun, terkadang untuk memulai suatu bisnis bukanlah suatu hal yang mudah.

Modal akan menjadi persoalan utama yang dihadapi setiap pebisnis atau pengusaha. Hal inilah yang selalu membuat orang urung untuk menjalankan bisnis mereka. Uang akan selalu menjadi patokan kegagalan atau keberhasilan dari bisnis mereka. Padahal, tidak selamanya uang menjadi masalah utama.

Dalam buku 20 Peluang Usaha Modal Dengkul karya Reny Y yang diterbitkan daras books, seperti dikutip okezone, Sabtu (17/4/2009), dikatakan bila salah satu usaha mandiri yang tidak membutuhkan modal sama sekali adalah dengan bekerja lepas alias menjadi freelance.

Untuk menjadi editor, penerjemah, penulis, guru privat, desainer web atau grafis, bahkan seorang agen properti, pada dasarnya Anda tidak membutuhkan modal uang sama sekali. Yang Anda butuhkan hanyalah modal keahlian yang sesuai dengan pekerjaan lepas Anda.

Kendati demikian, untuk menjadi seorang pekerja lepas atau freelance tersebut, ada baiknya Anda melihat enam tips untuk menjadi pengusaha bermodal dengkul ini.

1. Pilih Pekerjaan yang Benar-Benar Disukai.
Tujuan Anda bekerja freelance agar bisa bekerja tanpa tekanan dan bebas stres. Hasilnya? Tak perlu ditanya lagi. Selain mendapatkan penghasilan yang lumayan, Anda pun bisa menikmati pekerjaan tersebut. Nah, alangkah baiknya bila Anda memilih pekerjaan yang disukai atau memang menjadi hobi Anda.

2. Pilih Pekerjaan yang Benar-Benar Dikuasai.
Ada masanya, apa yang Anda sukai bukanlah menjadi sesuatu yang bisa Anda lakukan dengan baik. Saat menentukan pekerjaan yang akan ditekuni, Anda pun juga harus mempertimbangkan hal ini.

Seperti contoh, bagi Anda yang memiliki bakat berjualan, lebih baik Anda menjadi pedagang ketimbang desainer web yang sebenarnya lebih Anda sukai walaupun tak begitu menguasainya. Tetapi, Anda juga harus ingat saat memilih profesi tersebut, tidak ada unsur keterpaksaan di dalamnya.

3. Terus Belajar dan Pantang Menyerah.
Kunci utama kesuksesan seorang freelancer (sebutan untuk para pekerja lepas) salah satunya adalah kemauan untuk terus belajar dan terbuka terhadap hal-hal baru yang dapat menunjang pekerjaannya. Karena, hal ini pada dasarnya menyangkut kepercayaan terhadap orang lain.

Selain itu, sikap pantang menyerah juga dibutuhkan. Terutama ketika Anda sedang menemui kebuntuan berusaha. Cara mengatasinya dengan mencari berbagai alternatif promosi atau ide-ide usaha baru yang dapat membangkitkan usaha Anda.

4. Disiplinkan Diri Sendiri.
Menjadi freelancer sudah pasti tidak terikat dengan jam kerja yang monoton dan selalu santai. Namun bukan berarti Anda bisa seenaknya dan meremehkan pekerjaan Anda begitu saja.

Sikap disiplin mutlak dimiliki, karena hanya dengan kedisiplinan, pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Tanpa kedisiplinan, seorang pengusaha tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

5. Perluas Jaringan Kerja.
Tak peduli apapun pekerjaan lepas Anda, mempunyai jaringan yang luas adalah suatu keharusan. Tanpa ada jaringan kerja, akan sangat sulit bagi Anda untuk bertahan di tengah persaingan.

Bagi seorang freelancer, kontinuitas kerja berarti juga makin bertambahnya pundi-pundi uang ke kantong mereka. Segepok dana pun automatis akan deras mengalir ke rekening Anda, selama Anda konsisten dengan bidang usaha yang Anda pilih.

6. Pandai Berpromosi.
Bukan hanya sekadar mempromosikan barang dagangan saja, Anda pun juga harus bisa mempromosikan diri sendiri di depan para klien. Suksesnya promosi yang dilakukan dapat dilihat dari seberapa besar jaringan kerja Anda peroleh.

Saat ini, cara berpromosi bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak melulu mengeluarkan uang banyak. Salah satunya dengan mengikuti milis, komunitas pertemanan di dunia maya, dan yang paling sederhanaya yakni promosi gratis dari mulut ke mulut.

Tidak begitu sulit bukan dalam mendalami suatu usaha setelah Anda melirik tips di atas. Dengan keteguhan dan niat di dalam diri Anda, semua hal yang dilakukan pasti akan terlaksana.(wdi)  Dikutip dari Ade Hapsari Lestarini – Okezone

Economy – Strategi Pemasaran

Cara Jitu Mengemas Produk supaya Konsumen

Mencari-Cari Produk

Tung Desem Waringin. Foto: dahsyat.com

APAKAH Anda pernah melihat adegan sulap atau pertunjukan sulap? Apa yang menarik bagi Anda ketika melihat pertunjukan sulap? Di Indonesia banyak kita jumpai/ lihat pertunjukan sulap, baik di kafe–kafe, di mal–mal, atau di televisi.

Sehingga tidak jarang orang merasa suatu pertunjukan sulap adalah pertunjukan yang sudah biasa, karena mereka sudah pernah bahkan sering melihat di berbagai media atau di berbagai tempat lain sebelumnya. Atau merasa kurang tertarik untuk melihat pertunjukannya secara langsung, karena merasa pertunjukan sulap paling seperti yang ada di TV saja.

Meskipun saya yakin cukup banyak pesulap di Indonesia yang sebenarnya juga dahsyat. Namun, apakah Anda pernah mengenal atau mendengar David Copperfield? Siapakah dia? … Banyak orang yang mengatakan dia adalah seorang pesulap. Memang dia adalah seorang pesulap, namun sebenarnya ia juga merupakan praktisi marketing yang dahsyat. Mengapa begitu? … Coba saja Anda lihat, berbagai pertunjukannya sangat laku di berbagai penjuru dunia (meski tiketnya tidaklah murah).

Salah satu rahasianya adalah dia sangat ahli dalam mengemas pertunjukkan sulapnya menjadi pertunjukkan yang sangat menghibur, spektakuler, dan sangat memukau. Tentu saja dengan dibarengi strategi promosi yang dahsyat. Sehingga banyak orang yang mau melihat pertunjukannya bahkan hingga berkali-kali. Dia sangat jago dalam mengemas pertunjukan hingga detil-detilnya, baik tata panggung, pencahayaan, sound system, dan banyak lagi yang lainnya.

Sehingga penonton merasa sangat terlibat dalam pertunjukan tersebut. Hingga akhirnya dia mendapatkan predikat dari Las Vegas Review Journal: “Grade A” “Copperfield’s best illusions are still unparalleled on the strip!” The only “Grade A” rated full evening magic show in Las Vegas! Demikian juga dalam dunia seminar, apa yang ada dalam pikiran seseorang pada umumnya pertama kali kalau mendengar kata “seminar”? Biasanya dikaitkan dengan: suasana yang serius, duduk mendengarkan, bahkan ada yang mengatakan “membosankan”, dan…. Tidak sedikit juga yang mengatakan: mengantuk kalau ikut seminar.

Oleh karena itu, ada seorang pembicara yang mencoba membuat kemasan yang berbeda mengenai seminar. Seminar adalah: suasana yang menyenangkan, penuh kegembiraan, penuh semangat, dan tentunya penuh ilmu dahsyat dan …. Meski dalam lima hari berturut-turut pun, peserta seminarnya pasti tetap merasa segar dan bersemangat.

Karena itu, pembicara tersebut bisa mendapatkan predikat sebagai: Pelatih Sukses no 1 di Indonesia, Pembicara Terbaik di Indonesia, dan The most Powerful People in Business. Untuk membuat suatu kemasan seminar yang benar-benar menyenangkan, penuh kegembiraan, penuh semangat, dan ilmu yang bermanfaat, memang tidak mudah. Dan tetap ada saja yang berkomentar, “seminar kok pakai lunjak-lunjak,… seminar kok sampai jam 11 malam (bahkan lebih)…” dan seterusnya.

Namun, di sinilah saya benar-benar mempraktikkan Marketing Revolution, meskipun ada saja yang berkomentar seperti itu … Saya tetap fokus untuk bisa memberikan seminar yang benar-benar memiliki nilai tambah yang dahsyat. Saya juga memperhatikan detil-detilnya, supaya hasil keseluruhan bisa dahsyat.

Dan ternyata terbukti hasilnya, dengan mengemas seminar sedemikian dahsyatnya, akhirnya banyak sekali orang yang menghadiri seminar-seminar saya, dan banyak orang pula yang memberikan testimoni kesuksesan dan kebahagiaannya dengan mengikuti seminar-seminar yang saya berikan. Bahkan banyak orang yang tadinya tidak begitu suka seminar, bahkan antipati, malah akhirnya mereka mau mengikuti seminar saya.

Lebih dahsyatnya lagi mereka dengan senang hati terus-menerus mengikuti seminar saya hingga ada yang lebih dari delapan kali. Dan dengan senang hati pula para peserta seminar saya mereferensikan ke rekan bisnis, keluarga atau teman-temannya. Mulai dari lulusan SD hingga profesor, mulai dari pelajar hingga pengusaha besar ternyata menyukai seminarseminar saya, baik di Indonesia maupun di beberapa Negara lain.

Mereka menyukai seminar saya di antaranya karena mereka merasa mendapat banyak ilmu dalam suasana yang menyenangkan. Oleh karena itu, seringkali saya bertanya kepada para peserta seminar, “Bapak, Ibu, semua, kelihatannya kita harus selesai sampai malam… bagaimana? Mau lanjut?” Dan jawab para peserta seminar ,” Lanjut…!!!!” Sambung saya,”Tapi kelihatannya bukan hanya sampai malam, tapi bisa sampai tengah malam, bagaimana?”, kembali para peserta seminar menjawab, “Lanjut!! Terus lanjut”.

Dan perlu diketahui, seminarnya sering kali bukan hanya satu hari, tapi bahkan hingga lima, ya… lima hari berturut-turut hingga tengah malam, namun para peserta seminar tetap sangat bersemangat dan tentunya mendapat manfaat yang dahsyat. (*)(adn)

TUNG DESEM WARINGIN
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia

 

The most Powerful People and

Ideas in Business 2005

(Koran SI/Koran SI/rhs)

 

 

 

 

 

 

 

Ekonom: Krisis Yunani Awal Kehancuran Euro

Ada yang katakan tahun ini dan tahun depan adalah tahunnya Asia.”

VIVAnews – Krisis Yunani dikhawatirkan berdampak negatif bagi perekonomian negara-negara Euro. Namun, krisis ini dinilai memberikan peluang bagus bagi negara-negara di Asia.

Ekonom senior Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan mengkhawatirkan krisis Yunani menjadi awal kehancuran mata uang Euro. Alasannya, akibat krisis ini bisa saja membuat negara-negara yang tergabung dalam mata uang euro memisahkan diri dan kembali ke mata uang awal.

“Misalnya saja, pemerintah Jerman mengambil keputusan tidak mau membantu Yunani dan kembali ke Deutsche Mark, itu bisa saja terjadi,” tuturnya di Jakarta, Selasa, 1 Juni 2010.

Akibat krisis Yunani, mata uang Euro memang melemah tajam terhadap dolar AS.  Tetapi, dia menekankan krisis Euro memberikan peluang besar bagi bursa saham di negara-negara Asia. “Ada yang katakan tahun ini dan tahun depan adalah tahunnya Asia,” kata Fauzi.
Sebenarnya, Fauzi mengingatkan krisis yang terjadi di Yunani, Irlandia, Portugal dan Spanyol tidak akan berdampak besar bagi perekonomian dunia. Sebab, keempat negara itu hanya menyumbang kurang dari dua puluh persen dari PDB Eropa.

Apalagi, tulang punggung perekonomian di Eropa hanya bertumpu pada Jerman dan Perancis. Menurut dia, jika PDB dari Jerman dan Perancis digabung dengan Belgia, Belanda, Luxemburg, Italia serta Finlandia, total sumbangannya lebih dari 60 persen PDB Eropa.

Kondisi ini tentu saja berbeda dengan krisis di Amerika Serikat dua tahun lalu. Ini berdampak besar karena Amerika Serikat bersama Jepang yang juga kena krisis memberikan kontribusi hingga 55 persen terhadap perekonomian dunia sehingga menyebabkan krisis perekonomian global.  “Krisis Euro memang mengurangi kepercayaan investor tetapi tidak mengganggu pemulihan ekonomi dunia,” ujarnya. (sumber Heri Susanto, vivanews.com)

Economy – Analisa Ekonomi

Zero Cost Economy

Kamis, 8 April 2010 – 11:21 wib

Image : Corbis.com

BANYAK yang tidak menyadari, kehadiran entrepreneur-entrepreneur baru sepanjang dua tahun belakangan ini telah bermuara pada keguncangan – keguncangan pasar yang sangat besar.Kompetisi menjadi begitu keras dan kreatif, berebut setiap sen uang konsumen, dan memperebutkan setiap titik strategis yang dilewati trafik yang ramai. Beberapa hari lalu saya membaca iklan pada salah satu surat kabar nasional tentang sebuah hotel yang baru dibuka.Hotel itu menawarkan tarif hanya Rp28 per malam. Benar! Dua puluh delapan rupiah. Bagaimana Anda bisa bersaing dengan mereka? Ini benar-benar edan.Tentu ia bukan hotel kelas melati karena merupakan satu kesatuan dengan jaringan penerbangan murah.Ibaratkan saja seperti sebuah rumah makan seafood yang belakangan jaringannya banyak kita temui dengan prinsip “Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima”. Pada minggu yang sama saya juga kedatangan seorang kamerawan yang baru saja kena imbas pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Dia diutus sebuah perusahaan membuat profil saya untuk acara kick off meetingyang akan mereka lakukan.Yang membuat saya terkejut, ternyata dia hanya datang sendiri dengan alat rekam sangat sederhana. Kamera memotret yang dimodifikasi dengan base yang dibuat dari alumunium yang ringan sehingga dia bisa menggerakkan kameranya seperti kamerawan televisi. Waktu saya tanya, bagaimana dia bisa mempunyai alat seperti itu, jawabannya sederhana sekali: “Saya buat sendiri.” Katanya lagi, kalau membeli yang lebih bagus dari bahan yang lebih berat harganya bisa puluhan juta rupiah.Alat yang dia buat sendiri itu cuma berbiaya beberapa ratus ribu rupiah saja.

Cost is The Enemy

Dua fakta tersebut datang bersama-sama dengan ribuan fakta lain.Kenyataan ini begitu kasatmata. Namun ternyata tidak dihiraukan sebagian besar pelaku usaha lama. Lebih menakutkan lagi,ada ribuan manajer dan pengusaha yang menyangkalnya. Persis sehari yang lalu, beberapa orang eksekutif bank asing mampir ke Rumah Perubahan. Mereka meminta saya berbicara tentang change management untuk menggugah nasabah-nasabahnya yang masih enggan berubah.

Bank ini menyediakan layanan cash management beserta support software dan teknologi informasinya sehingga memudahkan mereka melakukan pengecekan data, transfer, dan kompilasi keuangan secara online. Setelah mendengarkan penjelasan mereka, siangnya saya langsung memanggil orang keuangan di kantor saya beserta seluruh karyawan. Saya meminta semua orang membuka rekening sehingga urusan cash dan gaji mereka semua bisa diselesaikan dengan cepat. Selain itu, semua urusan harus bisa diselesaikan secara digital melalui jalur online. Di luar dugaan, cara ini sangat menghemat waktu dan biaya. Bayangkan kalau Anda memiliki ribuan karyawan dan puluhan ribu pelanggan dan vendor. Berapa besar biaya yang harus Anda keluarkan untuk bertransaksi secara manual dan berapa banyak waktu yang terbuang?

Namun tahukah Anda, ribuan perusahaan besar masih beroperasi secara manual? Sabtu pekan lalu, saya juga bertemu dengan managing director salah satu perusahaan milik seorang Indonesia yang namanya sering disebut majalah Forbes. Perusahaan ini baru saja menjual share-nya pada salah satu Badan Usaha Milik Negara. “Saya beli pada harga Rp2.500 dan kami jual saat harga sahamnya Rp7.000. Dalam tiga tahun kita cukup meraih keuntungan,” ujarnya. Tahu apa yang dia lakukan untuk memperbaiki perusahaan? “Saya kira manfaat terbesar dari masuknya swasta ke BUMN adalah efisiensi. Buat kami, cost is the enemy,” ujarnya. Mereka merekrut eksekutif terbaik, tetapi mereka berani berperang melawan cost yang boros. Begitu mereka melihat atau mendengar adanya pengeluaran yang besar, mereka berkelahi dan bertempur bersama-sama. Belum lama ini Garuda Indonesia juga mengumumkan keuntungannya yang mencapai angka di atas Rp1 triliun. Sebagian orang terbelalak tidak percaya.

Sebab keuntungan spektakuler itu terjadi di tengahtengah kerugian besar melanda maskapai penerbangan milik Australia (Qantas), Malaysia (MAS), Thailand, Korea Selatan, dan Singapura (SQ). Memang jumlah penumpang Garuda Indonesia mengalami kenaikan sebesar tiga persen, tetapi keuntungan yang besar justru didapat dari upaya serius mereka memerangi cost. Emirsyah Satar dan timnya berhasil menghemat dua persen dari operating cost yang mencapai Rp11 triliun. Ini saja sudah berarti Rp220 miliar. Sejuta contoh dapat saya sajikan. Namun, sampai di sini, kiranya jelas Anda tak akan dapat berperang menghadapi year of hypercompetition pada 2010 hanya dengan promosi dan strategi penjualan saja. Kita semua wajib memerangi lawan-lawan kita yang berekonomi biaya rendah dengan spirit efisiensi. Kalau tidak, ya bersiapsiaplah beristirahat di tepi ring.

Ramping Tanpa Lemak

Sekitar 15 tahun lalu para peneliti operation management dari MIT-Boston pergi ke Jepang untuk mencari tahu apa rahasia Jepang mampu menumbangkan daya saing Amerika Serikat (AS)? Saat itu hampir semua sektor usaha AS habis dipukul Jepang.Para peneliti itu menyimpulkan,kalau mau bertahan, perusahaan-perusahaan AS harus mengadopsi metode produksi ramping (lean production system).

Mereka membandingkan perusahaan-perusahaan sejenis antarkedua negara itu. Dengan jelas terlihat, saat menikmati kemakmuran, perusahaan-perusahaan AS tergoda merekrut karyawan lebih banyak dari seharusnya, membuat gudang besar-besar, serta mengisi stok barang dan bahan mentah sebanyak-banyaknya. Yang tidak mereka pahami adalah semua perilaku itu menimbulkan beban biaya yang kelak akan dibebankan kepada konsumen. Saat Jepang masuk dan bersaing melalui produk-produknya, mereka disambut dengan tangan terbuka oleh konsumen AS. Produk-produk seperti automotif, alat-alat berat, sepeda motor, dan elektronik dengan cepat menguasai pasar AS. Harganya lebih murah, desainnya lebih simpel, energinya lebih hemat, engineering-nya lebih friendly, dan kualitasnya ternyata dipersepsi pelanggan lebih baik.

Saat harga energi menjadi mahal dan konsumen mulai menghargai kelestarian lingkungan,produkproduk AS yang boros energi dan bahan baku pun ditinggalkan. Sikap manusia terhadap nasionalisme pun bergeser. Kesuksesan itu ternyata tidak berlangsung lama. Tingginya biaya produksi di Jepang dan mahalnya harga tanah telah mengakibatkan perusahaan-perusahaan Jepang bermigrasi ke negara-negara lain. Namun pertanyaan yang teknis adalah dari mana perusahaanperusahaan Jepang belajar membuat itu semua? Rombongan peneliti dari MIT menyimpulkan,semua itu ternyata didapat dari sebuah kunjungan yang dilakukan para petinggi Toyota ke Detroit pada awal 1950-an untuk membuat usahanya lebih baik.

Muhibah ini agak mirip dengan perjalanan para petinggi di Kementerian Energi Malaysia yang dipimpin Tengku Razalegh Hamzah pada 1974 ke Pertamina. Mereka bukan cuma mempelajari bagaimana membuat sesuatu, mengopi success story, melainkan juga memperbaikinya. Eksekutif-eksekutif dari Jepang mengatakan, “Kami bisa membuatnya lebih baik.” Saya ingin kembali mengajak eksekutif Indonesia pada pokok pikiran pembukaan tulisan ini bahwa persaingan keras sudah tidak dapat dihindari lagi. Siapa yang akan muncul sebagai pemenang tak lain adalah mereka yang benarbenar mampu menentang tradisi dan memulai gerakan-gerakan pembaruan yang cemerlang.

Cuma itu yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi entrepreneur-entrepreneur baru yang datang dengan struktur biaya rendah. Itulah zero economic company: perusahaan dengan kesadaran terus-menerus membuang lemak, bekerja efisien dengan tak henti mengeksplorasi alternatif. (*)

Rhenald Kasali
Ketua Program MM UI
(Koran SI/Koran SI/rhs)

Karir dan kepribadian

Membangun Bisnis Pribadi saat Jadi Orang Kantoran

Rabu, 28 April 2010 – 13:58 wib 

Membangun kegiatan bisnis pribadi perlu bagi karyawan asalkan tidak menggangu tugas di pekerjaan utamanya. (Foto: Google)

BANYAK orang yang mulai membangun bisnisnya tapi masih enggan meninggalkan statusnya sebagai karyawan kantoran. Banyak yang berhasil, tapi banyak juga yang gagal. Bagaimana agar Anda menjadi salah satu dari mereka yang berhasil?

Tentu Anda sudah banyak mendengar saran bahwa jika seseorang ingin menjadi seorang pengusaha, maka mulailah usaha tersebut sebelum ia keluar dari pekerjaannya yang sekarang. Memang, ini saran yang bagus, tapi sebenarnya tak semudah itu untuk menjalankannya.

Pertama, orang tersebut harus pandai membagi waktu antara bekerja dan membangun bisnis. Umumnya, karena terikat jam kerja dan komitmen terhadap pekerjaan di kantor, ia hanya punya waktu sedikit untuk memikirkan bisnisnya.

Padahal jika targetnya ingin menjadi murni pembisnis, maka ia harus bisa membangun bisnisnya dengan serius agar nantinya ia bisa membayar biaya hidup sehari- hari.

Kedua, ia tentu tak ingin bisnis yang sedang dibangun diketahui atasan. Ini tentu saja karena setiap karyawan tidak ingin dicap sebagai karyawan yang tidak berdedikasi atau berkomitmen tinggi terhadap perusahaan.

Karena itulah, peraturan penting bagi mereka yang ingin memulai bisnis saat masih menjadi karyawan ialah jangan membawa atau mengerjakan bisnis Anda di kantor.

Memang godaan fasilitas di kantor bisa saja membuat seseorang tertarik untuk mengerjakan bisnisnya di waktu luang di kantor, tapi privasi di kantor yang tidak bisa dijamin bisa jadi malah membahayakan statusnya sebagai karyawan.

Lalu, bagaimana langkah yang harus ditempuh agar seorang karyawan bisa tetap merintis usahanya? Deborah A Bailey, penulis buku “Think Like an Entrepreneur: Transforming Your Career and Taking Charge of Your Life”, memberikan tipnya.

Cari waktu atau tanggal yang tepat untuk mengerjakan bisnis tersebut secara penuh atau full time.

Cobalah membuat target yang realistik, artinya cobalah untuk menetapkan tanggal yang nyaman bagi diri sendiri dan yakin bahwa di waktu yang ditetapkan bisa menangani bisnis dengan baik.

Cek pengeluaran

Seberapa besar dana yang dibutuhkan untuk membangun bisnis tersebut serta biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pribadi. Mereka yang sedang merintis karier harus mampu mengurangi pengeluaran. Pasalnya, jika nanti ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sementara bisnisnya belum mapan maka masalah pengeluaran akan menjadi masalah besar.

Mulailah untuk membayar tagihan kartu kredit

Siapkan rencana untuk membayar tagihan-tagihan kartu kredit. Siapkan juga rencana bujet untuk pengembangan bisnis.

Bersiap untuk bekerja sendiri

Jika bisnis yang direncanakan lebih banyak dilakukan di rumah dan tanpa rekan kerja atau asisten, bersiaplah untuk bekerja seorang diri. Siapkan juga jaringan kerja atau jaringan pertemanan agar nantinya berguna saat bisnis sudah berjalan sepenuhnya.

Buatlah sebuah misi atau target yang ingin dicapai dalam bisnis tersebut

Target bisa dibuat dalam bentuk business plan atau sebuah pernyataan misi bisnis. Yang penting isinya menyangkut inti dari bisnis tersebut dan mengapa mengerjakan bisnis itu. Ingatlah bahwa memilih untuk berbisnis tidak hanya sekadar keinginan untuk tidak bekerja pada orang lain tapi mengetahui apa yang sedang dan akan dikerjakannya dalam bisnis tersebut.

Menjaga bisnis tetap berjalan

Bagaimana jika meninggalkan pekerjaan dengan segera bukanlah menjadi prioritas? Bagaimana jika pekerjaan di kantor dan bisnis atau usaha sampingan ingin dijalankan secara bersamaan? Bailey memberikan saran sebagai berikut.

Buat batasan

Klien dalam bisnis bisa saja meminta waktu lebih, tapi prioritas tetaplah pekerjaan di kantor. Seseorang yang memilih untuk membagi pekerjaannya antara karyawan sekaligus pengusaha harus mampu mengatakan pada kliennya bahwa ia punya waktu yang terbatas untuk menangani bisnis. Tetaplah memprioritaskan pekerjaan daripada nantinya dipecat dari pekerjaan karena tidak mampu bekerja dengan baik.

Berhati-hatilah dalam menggunakan social media.

Berhati-hatilah jika ingin mempromosikan bisnis secara online karena bisa jadi perusahaan mengecek aktivitas karyawannya di dunia online. Jika bisnis yang dikerjakan berada di bidang yang sama dengan pekerjaan tetap, maka hindari berkompetisi secara langsung di dunia online.

Jangan tergoda menghamburkan pendapatan

Memiliki usaha sampingan sudah pasti akan memberikan tambahan pendapatan setiap bulannya. Namun, jangan lantas membuat penghasilan tambahan itu mendorong untuk memperbesar pengeluaran per bulan. Tak ada gunanya jika penghasilan bertambah tapi pengeluaran untuk hal yang bukan prioritas juga bertambah. Lebih baik uangnya digunakan untuk mengembangkan usaha.
(okezone/Koran SI/Koran SI/tty)

Economy – Analisa Ekonomi

Penjualan Saham Carrefour

http://www.okezone.com senin, 19 April 2010 – 09:29 wib

Carrefour MT Haryono. (Foto: Ade Hapsari L/okezone)

PENJUALAN 40 persen saham Carrefour dari pemiliknya di Prancis kepada Trans Corp yang dimiliki Chairul Tanjung baru-baru ini memancing perhatian publik.

Carrefour, perusahaan yang berkembang sangat pesat, memang terantuk sandungan hukum karena terkait dengan tuduhan monopoli setelah mereka mengakuisisi gerai Alfa.Namun terlepas dari kaitan hukum tersebut, perkembangan Carrefour memang fenomenal. Jika bisnis mereka di Jepang beberapa waktu lalu menemui jalan buntu sehingga gerai mereka harus dilepas ke Hypermart dari Amerika Serikat, perkembangan bisnis mereka di Indonesia seakan tidak tertahankan. Dengan tambahan gerai dari Alfa yang di beberapa tempat kemudian diberi label Carrefour Express, jumlah gerai Carrefour di Indonesia sudah sekitar 100.Mereka juga berencana membuka 12 gerai baru tahun ini dan entah berapa lagi untuk tahun-tahun mendatang.

Perkembangan ini menandai semakin maraknya akuisisi di bisnis ritel yang sangat menarik. Beberapa waktu lalu kita mendengar penjualan sebuah bisnis ritel yang besar, yaitu PT Matahari Putra Prima Tbk. Perusahaan publik tersebut sahamnya dibeli oleh CVC Capital Partner dengan harga sekitar USD800 juta.CVC Capital Partner merupakan pemodal private equity kelas dunia yang bermarkas di Luksemburg, Eropa. Sebelumnya, Makro, sebuah bisnis yang mirip Carrefour, juga berganti pemilik. Pada saat penjualan Makro,beberapa pihak tertarik untuk ikut membeli, termasuk pemodal besar dari Indonesia. Ternyata persaingan untuk membeli Makro dimenangi Lotte, pebisnis ritel dari Korea, dengan selisih harga yang cukup besar.

Sebagaimana awal cerita ini, sebelum terjadinya berbagai akuisisi tersebut, kita mengetahui perusahaan ritel Alfa Supermarket dilepas oleh pemiliknya ke Carrefour. Pemilik lama Alfa Supermarket kemudian lebih mengonsentrasikan diri pada jaringan Alfamart yang menggurita ke mana-mana serta mengembangkan Alfa Midi, jaringan toko ritel ukuran menengah yang juga tampak mulai terlihat di berbagai tempat. Jaringan Alfamart ini juga bersaing keras dengan jaringan Indomaret yang dimiliki keluarga Salim dengan kecepatan ekspansi yang tidak kalah. Kita bisa menyaksikan pergerakan mereka di malam hari pada saat tempat lain sudah gelap,jaringan Alfamart dan Indomaret yang umumnya beroperasi 24 jam tersebut masih terang-benderang.

Tanda-tanda zaman apakah yang bisa kita temukan dalam berbagai proses akuisisi tersebut? Sebagaimana banyak diulas oleh para analis luar negeri, Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa karena jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pendapatan yang terus meningkat. Ciri negara seperti ini adalah bisnis ritel yang berkembang pesat di negara tersebut. Saya sering menyebutnya sebagai population based economy. Pengamat lain mungkin sering menyebutnya sebagai perekonomian domestik. Goldman Sach, lembaga keuangan terkenal dari Amerika Serikat, adalah salah satu yang mengamati perkembangan tersebut. Setelah meluncurkan studi tentang negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) pada 2002, Goldman Sach kemudian mengamati bahwa ternyata banyak negara lain yang penduduknya besar juga memiliki potensi kekuatan ekonomi.

Lembaga keuangan tersebut memperoleh data 11 negara yang kemudian disebut sebagai N-11 (the Next 11 countries). Indonesia termasuk di dalamnya, bahkan bisa dikatakan sebagai champion dari N-11 tersebut. Dalam studinya pada 2007 yang berjudul N-11: Not Just an Acronym, Goldman Sach memprediksi pada 2050 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia. Studi ini mirip dengan yang dibuat Pricewaterhouse Coopers, kantor akuntan terbesar di dunia yang bermarkas di London, yang mengeluarkan studi The World in 2050. Dalam studi tersebut, Indonesia, yang dimasukkan sebagai bagian dari Emerging 7bersama dengan China, India, Brasil, Rusia, Meksiko, dan Turki diprediksi menjadi kekuatan ekonomi nomor enam di dunia.

Potensi ini sekali lagi juga berdasarkan kekuatan demografinya lantaran jumlah penduduk Indonesia yang besar. Jumlah penduduk Indonesia memang besar. Namun, dari sisi daya beli, apakah pendapatan masyarakat kita memadai? Pendapatan per kapita Indonesia tahun 2009 mencapai USD2.591 atau sekitar USD2.600. Tingkat pendapatan ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan pendapatan per kapita tertinggi sebelum krisis dan sekitar lima kali lipat dibandingkan dengan pendapatan per kapita sewaktu krisis tahun 1998. Tingkat pendapatan ini akan terus naik pada tahun-tahun mendatang. Prediksi saya, tahun 2010 ini kita akan mulai mendekati tingkat pendapatan per kapita sekitar USD3.000. Jika ini tercapai, banyak pihak yang memprediksi akan muncul tambahan energi baru dari perekonomian Indonesia karena munculnya gelombang baru dalam perekonomian.

Yang juga sangat penting adalah mengamati distribusi pendapatan. Sekitar 10% penduduk Indonesia, yang tahun 2010 ini mencapai sekitar 23 juta jiwa,memiliki 30% pendapatan nasional. Ini berarti jumlah penduduk tersebut memiliki pendapatan per kapita USD7.800. Jumlah ini lebih besar dari pendapatan per kapita seluruh penduduk Malaysia yang dewasa ini berjumlah 26 juta penduduk dengan pendapatan per kapita pada 2008 sebesar USD7.080. Sementara itu, 30% penduduk Indonesia, yaitu sekitar 69 juta jiwa, memiliki pendapatan rata-rata lebih dari USD5.000. Jumlah ini jauh melampaui pendapatan rata-rata penduduk Thailand yang berjumlah sekitar 65 juta,yang rata-rata pendapatan per kapitanya sekitar USD3.000.

Dengan melihat perkembangan tersebut, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Bahkan lebih besar dibandingkan dengan pasar yang dimiliki Thailand ditambah Malaysia sekalipun. Oleh karena itu,kita menyaksikan pada 2010 ini selama bulan Januari dan Februari,penjualan mobil di Indonesia mulai melampaui Thailand dan Malaysia. Secara tradisional, bertahun-tahun Indonesia merupakan negara nomor tiga dalam jumlah penjualan mobil domestik.

Dengan melihat perkembangan ini, bisnis ritel merupakan tambang emas baru bagi pengusaha.Mereka yang berhidung tajam akan berlomba- lomba memasuki bisnis tersebut karena prospek yang menarik yang dimilikinya. Itulah tanda-tanda zaman kita dalam beberapa tahun mendatang ini. (*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi

Kisah Sukses

Robert B Willumstad, Optimisme Gaya CEO Dadakan

Pekan lalu dia didapuk secara mendadak menjadi pimpinan puncak di AIG. Itu, karena dia dinilai mampu mengatasi kesalahan (yang menimbulkan kerugdian hingga USD 13 miliar) atas kelakuan pendahulunya?

Bagi Robert B. Willumstad, tiada hari teramat istimewa selain Senin pekan lalu. Bagaimana tidak. Tepat pada hari itu, dia dipercaya menggantikan Martin J Sullivan menjadi Chief Executive Officer (CEO) American International Group Inc. (AIG). Sebelumnya, Sullivan sempat menduduki jabatan puncak di perusahaan beraset lebih dari USD1 triliun ini selama tiga tahun.

Sebenarnya pula, pergantian pimpinan di sebuah lembaga adalah hal yang lumrah. Tapi, yang baru saja terjadi di AIG, bisa dibilang, agak istimewa. Bahwa akan terjadi pergantian pimpinan puncak di perusahaan ini, memang sudah diprediksi banyak kalangan. Hanya saja, mereka tidak memperkirakan akan terjadi secepat itu. Sertijab dari Sullivan kepada Willumstad memang digelar begitu mendadak.

Tentu, ada dasarnya para pemegang saham AIG harus mengambil langkah segera. Terutama, karena kinerja perusahaan yang menunjukkan tren makin memburuk. Lihat saja performanya hingga kuartal I-2008, skala kerugdiannya sudah mencapai USD 13 miliar, konon rekor tertinggi sejak perusahaan ini mulai beroperasi pada 1919. Padahal, selama periode April hingga September 2007 AIG masih bisa mencatatkan keuntungan USD7,4 miliar.

Kerugian yang begitu besar bisa terjadi dalam tempo yang amat singkat, menurut analisis banyak kalangan, di antaranya akibat kesalahan manajemen dalam menyalurkan dana investasi. Perusahaan ini, kata mereka, terlalu banyak mengalokasikan dananya untuk surat-surat berharga yang berhubungan dengan sektor properti.

Masih hangat dalam ingatan kita, banyak investor di sektor ini yang harus merugi dalam skala sangat besar karena imbas yang ditimbulkan oleh krisis kredit perumahan (subprime mortgage) yang meletup di Amerika setahun lalu.

Pagebluk yang luar bdiasa hebatnya itu pun, tak terkecuali, melindas AIG. Skala kerugdiannya, bisa dibilang, hampir sama dengan yang ddialami Citigroup, Bear Stearns, dan Merrill Lynch. Untuk mengatasi keadaan, sebenarnya, Sullivan sempat melakukan “perlawanan”. Tapi lacur, situasi berkembang semakin buruk. Persoalannya bertambah pelik, juga karena kepercayaan investor di lantai bursa makin menipis. Fakta yang sulit dimungkiri, hingga awal tahun ini, harga saham AIG melorot tajam hingga 50 pesen.

Walhasil, nasib Sullivan, juga CEO di beberapa perusahaan itu, harus berujung suram: terpaksa dilengserkan. Kini, harapan banyak investor berada di pundak Willumstad. Prdia yang sejak November 2006 menjabat sebagai Chairman AIG ini memang dikenal sebagai leader yang andal. Setidaknya, dia memiliki kepercayaan diri yang amat tinggi untuk menduduki posnya yang baru.

“Saya merasa terhormat dan tertantang mendapat kesempatan memimpin perusahaan sebesar AIG,” antara lain pernyataan resminya, sehari setelah dia dilantik menjadi CEO.

Willumstad boleh-boleh saja begitu percaya diri. Sikapnya itu, paling tidak, diharapkan bisa memompa kembali semangat 116 ribu karyawan AIG yang sempat terpuruk. Dalam suasana (bekerja) yang tenang, sejatinya mengurai permasalahan bisa dilakukan lebih cermat.

Berpengalaman di Bidang Keuangan Selama 40 Tahun

Lebih dari itu, untuk mengatasi kemelut yang terjadi, Willumstad telah menydiapkan sejumlah jurus pamungkas. Di antaranya, segera saja dia melakukan evaluasi terhadap portofolio investasi perusahaan. Hal ini menjadi prioritas, agar kerugdian yang lebih besar lagi bisa dihindari. Targetnya, setelah “terapi” berjalan selama 90 hari, diharapkan seluruh dana investasi telah berada pada keranjang yang benar. Langkah yang dinilai banyak kalangan sebagai kebijakan yang tepat.

Selain itu, masih ada problem yang tak kalah beratnya yang harus dibenahi Willumstad. Yakni, sesegera mungkin memulihkan kondisi keuangan perusahaan. Persoalannya, jika masalah ini tak cepat ddiatasi, niscaya akan memunculkan persoalan baru, yang tak mustahil berdampak buruk terhadap anak-anak perusahaan.

Ada sejumlah anak perusahaan yang bernaung di kelompok usaha ini. Di antaranya di bidang properti yang bernilai aset sebesar USD25 juta, perusahaan manajer investasi yang mengelola dana nasabah dengan skala mencapai USD29,4 miliar, dan perusahaan yang menangani pembdiayaan pembeldian pesawat. Bila perusahaan induknya terbelit masalah keuangan, lazimnya pula, hal itu akan berimbas terhadap anak-anak perusahaan.

Untuk mengatasi persoalan itu, Willumstad telah menydiapkan langkah tergolong cermat. Dengan kebijakannya itu, bahkan dia begitu yakin bahwa seluruh kerugdian perusahaan sudah bisa ddiatasi pada akhir tahun ini juga. Wow! Artinya, hanya dalam tempo enam bulan ke depan, dia beserta seluruh jajaran di AIG harus berjuang mati-matdian agar AIG selalu memetik untung. Mungkinkah?

Agar target tersebut bisa dicapai, tdiada pilihan lain selain melakukan efisiensi secara besar-besaran. Kebijakan penghematan inilah, sesungguhnya, yang tengah ditunggu-tunggu oleh segenap karyawan AIG. Tapi masalahnya, untuk merealisasikannya, bukanlah perkara gampang. Maklum, melaksanakan kebijakan serupa ini cenderung tak banyak pilihan. Yang lazim, di antaranya, lewat jalan pintas yang kerap dinilai tak populer, yakni mengurangi jumlah karyawan dengan cara PHK. Cara lainnya yang tak kalah peliknya dengan berusaha sekuat tenaga menekan biaya operasional. Atau kombinasi di antara keduanya.
Sampai di situ, bisa dibayangkan, bagaimana peliknya permasalahan yang harus diselesaikan Willumstad. Tapi, lagi-lagi Willumstad menyikapinya dengan optimisme.

Keyakinan pria yang saat ini berusdia 62 tahun begitu tinggi, bisa jadi, termotivasi oleh pengalamannya selama 40 tahun sebagai profesional di bidang keuangan. Selain itu, dia merasa bebannya menjadi agak ringan, setelah para pemegang saham mengangkat Stephen Bollenbach, mantan CEO Hilton Hotels Corp, menjadi pendampingnya. Jabatan resmi Bollenbach adalah sebagai kepala direktur independen.
Karir Willumstad di bisnis keuangan dimulai saat dia masih berusdia 21 tahun.

Saat itu dia sudah bekerja di Bank Chemical. Pengabddiannya di perusahaan ini berlangsung selama 20 tahun. Setelah itu dia loncat ke Citifinancdial (1987), tak lain salah satu unit usaha Citigroup. Beberapa tahun kemuddian dia bergabung dengan Travelers Group Consumer Financdial Services. Di perusahaan ini karirnya tergolong cemerlang, bahkan dia mampu menapak hingga ke puncak, yakni menjadi CEO.
dia sempat disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang melempangkan perkawinan dua perusahaan keuangan terkemuka (1998), yakni Citicorp dan Travelers Group. Merger di antara keduanya kemuddian melahirkan Citigroup, gergasi keuangan terbesar di dundia saat ini. Di Citigroup, Willumstad kemuddian didapuk menjadi salah satu direkturnya.

Jabatan tertingginya di kelompok usaha ini sebagai chief operating officer. Boleh jadi lantaran merasa karirnya di Citigroup sudah mentok, pada 2005 Willumstad pun mengundurkan diri dari sana. Setahun setelah itu, dia bergabung dengan AIG. Nah, persoalannya sekarang, mampukah dia mengatasi seluruh permasalahan yang tengah dihadapi AIG? Kita lihat saja. (Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)

Paul Krugman Raih Nobel Ekonomi

Foto: Dok Bank Dunia
Washington – Ekonom AS, Paul Krugman memenangkan penghargaan Nobel Ekonomi. Profesor dari Universitas Princenton itu berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi atas analisisnya terhadap pola perdagangan.

Menurut Dewan Juri Nobel, Krugman, 55 tahun, berhasil memformulakan teori bahwa yang memperhitungkan efek dari perdagangan bebas dan globalisasi sebagai faktor di balik pendorong urbanisasi di berbagai belahan dunia.

“Pendekatan Krugman berdasarkan pada dasar pemikiran bahwa banyak barang-barang dan jasa yang dapat diproduksi lebih murah dalam serial yang panjang, sebuah konsep umum yang dikenal sebagai skala ekonomi,” jelas juri Nobel, sebagaimana dikutip dari AFP, Senin (13/10/2008).

Tidak seperti teori perdagangan tradisional yang mengasumsikan bahwa perbedaan antar negara menjelaskan kenapa beberapa negara mengekspor produk pertanian sementara lainnya mengekspor barang-barang industri. Namun teori Krugman mengklarifikasi kenapa perdagangan di seluruh dunia faktanya didominasi oleh negara-negara yang tidak hanya memiliki kesamaan kondisi, tapi juga memperdagangkan produk yang sama.

Krugman telah memformalkan kebijakan perdagangan dunia baru yang membantu untuk menjelaskan bahwa globalisasi cenderung menjadi sebuah konsentrasi, baik dalam istilah apa basis yang dibuat manufaktur dan dimana lokasinya. Teorinya menunjukkan bahwa globalisasi cenderung untuk meningkatkan tekanan hidup masyarakat kota, dan membuat orang-orang terdorong ke pusat konsentrasi.

“Teori Krugman menunjukkan bahwa hasil dari proses ini adalah bahwa sebuah wilayah dapat terbagi menjadi kota inti berteknologi tinggi dan lingkungan sekitarnya yang kurang berkembang,” tambah Juri.

Krugman dikenal sebagai pengkritik tajam Presiden George Walker Bush melalui berbagai artikelnya di New York Times. Dia juga telah menerbitkan lusinan buku dan ratusan artikel, teritama tentang perdagangan internasional dan keuangan dunia dan dikenal sebagai pencetus “New Economic Geography”.

Lahir di Long Island, AS pada 28 Februari 1953, Krugman meraih gelar PhD dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ia juga mengajar di Universitas Yale, the London School of Economics, Stanford dan MIT. Selain menerbitkan kolum dua mingguan, Krugman juga pernah menjabat sebagai penasihat Dewan Ekonomi AS.

Apa tanggapan dari kolumnis New York Times yang produktif tersebut atas penghargaan ini?

“Saya seseorang yang memiliki kepercayaan besar untuk terus bekerja. Saya harap penghargaan ini tidak banyak mengubah segala sesuatunya,” ujar Krugman dalam wawancaranya dengan televisi Swedia, sesaat setelah menerima penghargaan,

Tahun lalu, trio dari AS Leonid Hurwicz, Eric Maskin dan Roger Myerson memenangkan penghargaan bergengsi ini, karena dianggap telah menjadi perintis bagi mekanisme perdagangan yang ditujukan untuk membuat pasar lebih efisien. Rencananya, upacara pemberian penghargaan Nobel ini akan digelar di Stockholm dan Oslo pada 10 Desember. Dikutip dari Nurul Qomariyah – detikFinance (qom/ddn)

Uang Palsu Jelang Pemilu
Penipuan Berkedok Uang IDR

JAKARTA-Pertengahan tahun 2005, 5 anggota Badan Intelijen Negara (BIN) UANG DOLLARtersangkut kasus uang palsu. Menariknya, salah satu tersangkanya adalah bekas Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu BIN, Brigjen (Purn) Zyaeri.

Dalam persidangan yang digelar saat itu terungkap, Zyaeri Bersama 4 anak buahnya, Muhammad Iskandar, Harianto, Zaelani dan Woro Narus Saptoro kedapatan membuat dan memalsukan uang negara dan pita cukai. Dalam aksinya, para pelaku telah mencetak uang pecahan Rp 100.000 sebanyak 2.267 lembar senilai Rp 230 juta.

Keterlibatan aparat intelijen dalam kasus uang palsu (upal) jelas mengejutkan. Karena mereka punya akses, kemahiran dan jaringan. Itu sebabnya, pengamat intelijen Wawan Purwanto berharap, polisi bisa cepat mengantisipasi dengan mengawasi kelompok-kelompok yang pernah tertangkap dalam kasus upal.

“Pelakunya biasanya kelompok itu-itu juga. Dan mereka sudah pengalaman dalam membuat blue print. Selain itu mereka juga punya jaringan untuk mengedarkannya. Kalau pendatang baru jelas akan sangat kesulitan, ” jelas Wawan kepada detikcom.

Namun sebuah sumber di Mabes Polri menyebutkan, sebenarnya yang marak sejak tahun 2000 an bukan masalah uang, bukan kasus peredaran upal, melainkan kasus penipuan yang berkedok mata uang IDR. Hanya saja kasus penipuan ini banyak yang diberitakan media sebagai kasus upal.

Sumber tersebut mencontohkan, kasus dollar hitam. Para pelaku umumnya WNA dari Afrika. Adapun modusnya dengan menawarkan kepada korban tumpukan kertas sewarna dengan dollar, yang harus diproses secara kimia, dengan cairan khusus.

Korban menjadi tertarik, karena hasil proses kimia tersebut menghasilkan uang dollar pecahan 100 dollar, dan bisa dibelanjakan atau ditukar di money changer. Namun ketika korban sudah membeli peralatan tersebut dengan jumlah dana yang besar, korban ternyata hanya mendapat tumpukan kertas dan beberapa dollar palsu. “Namun di media diberitakan sebagai kasus upal dengan jumlah miliaran,” jelas sumber tersebut.

Ada juga kasus penipuan dengan pola penukaran seperti dalam transaksi upal, yakni 1 banding 2. Padahal upal yang ditransaksikan hanya beberapa lembar pecahan Rp 100.000 yang diletakkan di atas gepokan kertas-kertas putih. Menurut sumber tersebut, penipuan-penipuan semacam ini yang justru sedang marak.

Tapi diakuinya, umumnya para korban jarang yang mau melapor ke polisi. Karena mereka umumnya orang kaya atau pejabat pusat maupunh daerah. “Mereka malu telah tertipu. Pingin dapat uang banyak malah kecele,” jelas sumber yang mengaku telah memantau aksi penipuan semacam ini sejak tahun 1990-an.

Dalam kasus seperti ini, para komplotan penipu biasannya menyebut-nyebutnya sebagai IDR. Tapi bukan yang berarti Indonesia Rupiah. Melainkan IDR dengan singkatan tertentu. Ada beberapa versi singkatan IDR, selain singkatan rupiah.

Versi pertama adalah Investment Dynasty Reserve. Artinya, uang rupiah atau harta peninggalan dari simpanan raja raja zaman dahulu. Uang simpanan tersebut konon sebagai dana cadangan rakyat lndonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan dan perdamaian dunia. IDR tersebut disebut-sebut disimpan di bank Swiss, dan hanya boleh diambil oleh ahli warisnya.

Versi kedua, IDR ini juga singkatan dari Invest Deposit Realization, yaitu semua harta kekayaan yang tersimpan di luar negara swiss, seperti dalam bunker atau tempat lainnya. Sama dengan yang pertama, untuk mencairkannya harus oleh ahli waris atau orang yang ditunjuk yang didukung oleh bukti dokumen resmi, yang seolah-olah diterbitkan oleh pemerintah.

Versi uang IDR lainnya, adalah uang merah atau uang polymer pecahan Rp 100.000 yang diterbitkan tahun 1999. Uang merah jenis ini kabarnya mencapai triliunan rupiah. Uang itu belum bisa beredar karena belum diregister oleh Bank lndonesia.

Nah versi yang terakhir inilah yang sejak tahun 2000, sering dilakukan para penipu. Mereka berupaya meyakinkan calon korban bahwa mereka memiliki uang IDR asli yang belum edar. Biasanya, para pelaku mengatakan, uang IDR itu tersimpan di peti khusus dari almunium, dan setiap gepokan uang IDR sejumlah 10 jutaan, tersusun dalam jumlah 100 jutaan, serta dibungkus plastik yang berlogo kanguru.

Pelaku kemudian meyakinkan bahwa uang itu adalah asli dari percetakan di Australia, yang belum sempat diedarkan. Untuk lebih meyakinkan lagi, pelaku juga mengaku bahwa uang tersebut adalah milik para pejabat di era presiden Suharto, dimana uang tersebut belum diedarkan karena belum ada perintah dari Pak Harto.

Uang pecahan Rp 100.000 ribu polymer (plastik) memang dicetak di Australia dan Thailand. Tetapi karena mutu cetakan uang yang berasal dari Thailand kurang bagus, maka uang yang berseri AAA itu kemudian ditarik dari peredaran. Jadi uang polymer pecahan Rp 100.000 yang saat ini masih beredar adalah hasil cetakan Australia.

Untuk meyakinkan calon korban, pelaku sengaja memilih lokasi yang strategis untuk pertemuan. Misalnya di depan rumah mantan penguasa orde baru Soeharto, gedung bundar Kejaksaan Agung, bank swasta atau bank pemerintah, tempat parkir gedung pemerintahan, serta hotel berbintang.

Para pelaku biasanya berjumlah 3 – 5 orang dan masing masing pelaku punya peran yang berbeda. Ada yang mengaku ajudan Jenderal, PNS, atau utusan pejabat lainnya.

Dalam pertemuan itu korban diminta untuk membawa uang pengganti yang nilainya ratusan bahkan miliaran rupiah. Para pelaku beralasan, uang itu sebagai pembuka sistem di perbankan untuk mengeluarkan uang jumlahnya mencapai triliunan rupiah.

Namun, setelah korban bertemu dengan pelaku, tiba-tiba pelaku mengubah tempat atau bank yang ditunjuk sebelumnya. Dengan lihainya pelaku masuk ke bank dan tak lama kemudian muncul pelaku lainnya sambil membawa peti yang diakuinya berisi uang IDR.

Pelaku umumnya tidak sempat membuka peti itu di hadapan pelaku karena ditakut-takuti bakal tertangkap polisi bila ketahuan. Kata pelaku, sekalipun uang itu asli, namun belum resmi untuk beredar. Akhirnya korban bergegas meninggalkan lokasi pengambilan uang dengan membawa peti berisi kertas yang menyerupai uang pecahan 100 ribuan polymer.

Diakui sumber tersebut, penipuan model ini yang diperkirakan marak menjelang pemilu. Dan yang jadi korban adalah orang-orang partai atau caleg yang butuh uang dalam jumlah besar. Mereka akan menjadi incaran para penipu uang IDR.(ddg/asy) Dikutip dari Deden Gunawan – detikNews, Kamis, 18/12/2008 11:47 WIB

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: